Lewat OJK, Rothschild “Ganggu” Bakrie Soal Penyusutan Saham BUMI di BRMS

nath rothschild guardianIpotnews – Investor Inggris Nathaniel Rothschild mendesak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menyelidiki kabar berkurangnya kepemilikan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dari 87,09% menjadi 45%. Rothschild curiga seluruh transaksi yang dilakukan oleh grup Bakrie di BRMS dilakukan untuk menyuplai kebutuhan induk usahanya, BUMI.

Dalam rilis yang diterima wartawan, Jumat (1/3), Rothschild mengaku mencatat beberapa poin penting di dalam pemberitaan terkait berkurangnya kepemilikan Bumi Resources [BUMI 830 10 (+1,2%)] di Bumi Resources Minerals [BRMS 320 5 (+1,6%)] beberapa hari lalu. Saat itu dikabarkan pengurangan kepemilikan saham telah terjadi dalam beberapa bulan terakhir namun belum diungkapkan sampai dengan minggu ini.

“Kami mendesak kepada OJK untuk menyelidiki hal ini dan kami juga akan memanggil Samin Tan, yang merupakan Presiden Komisaris Bumi Resources, Presiden Direktur BRMS, serta Presiden Direktur di Bumi Plc, untuk memberikan kejelasan atas transaksi tersebut,” tambah Rothschild, yang merupakan salah satu pemegang saham utama di Bumi Plc yang memegang saham di BUMI dan Berau Coal Energy [BRAU 285 10 (+3,6%)].

Selain itu, lanjut Rothschild, pihaknya juga akan mendesak Samin Tan untuk menjawab beberapa pertanyaannya, seperti mengapa investor tidak diberitahu oleh Samin Tan mengenai transaksi tersebut. Selain itu ia juga mempertanyakan mengapa Bumi Resources -yang diawasi oleh Samin Tan- menjual aset-aset pemegang saham begitu murah.

Rothschild mengatakan di Maret 2012, Bumi Resources memiliki 87% saham di BRMS senilai lebih dari US$1 miliar. Namun saat ini sahamnya hanya tinggal 45% senilai US$380 juta. Menurut Rothschild, melihat dari penurunan harga saham BRMS lebih dari 40% dalam 12 bulan terakhir pemegang saham Bumi Resources perlu mengetahui kapan Bumi Resources melepas kepemilikan sahamnya di BRMS.

“Apakah sekarang Bumi Resources sedang tertekan untuk membayar bunga utang yang membuat mereka melakukan transaksi repo dengan “pihak-pihak terkait”? Lalu apakah grup Bakrie juga mendapatkan harga saham sesuai dengan harga pasar?,” tanya Rothschild.

Beberapa pertanyaan lain yang akan diajukan Rothschild adalah apakah Samin tan mengizinkan transaksi tersebut serta apakah Samin Tan mengizinkan kepada BRMS untuk memberikan dana US$100 juta dari BRMS ke Bumi Resources untuk menutupi bunga pinjaman Bumi Resources di kuartal keempat 2012, di mana dana tersebut seharusnya untuk mengembangkan lokasi tambang Dairi Prima Mineral.

Rothschild juga mengaku tidak dapat membayangkan Samin Tan sebagai Presiden Komisaris di Bumi Resources, Presiden Direktur di BRMS dan Chairman Bumi Plc tidak mengetahui transaksi ini dan saat Rapat Umum Pemegang saham Luar Biasa Bumi Plc kemarin memilih untuk tidak mengatakan apapun.
Ia juga mengatakan berdasarkan keterangan BRMS kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Bumi Resources telah menjual saham BRMS di bawah harga pasar sejak Maret 2012.

“Namun saat ini adalah yang pertama publik mengetahui bahwa mereka (manajemen Bumi Resources) telah menjual kepemilikan sahamnya. Selanjutnya di laporan keuangan kuartal kedua 2012 dan kuartal ketiga 2012, Bumi Resources dan BRMS menyatakan bahwa kepemilikan saham mereka masih 87%. Nampaknya terjadi kesalahan pada laporan keyangan tersebut dan ini menimbulkan keprihatinan mendalam bagi semua investor, apalagi jika melihat sejarah penyimpangan keuangan di dalam perusahaan Bumi Resources,” tegas Rothschild.

Rothschild juga mencatat pemegang 13% saham BRMS yakni Long Haul Indonesia merupakan transaksi yang dirahasiakan. Menurutnya, investor tersebut adalah bagian dair jaringan Long Haul, perusahaan yang dikendalikan untuk kepentingan grup Bakrie.

Klaim BUMI
Sebelumnya, Direktur dan Corporate Secretary Bumi Resources, Dileep Srivastava, menegaskan bahwa kepemilikan saham Bumi Resources di BRMS tetap sama dan tidak mengalami perubahan. Manajemen Bumi Resources menegaskan bahwa sampai dengan saat ini masih memiliki dan menguasai 87,09% saham di BRMS.

Ia juga menegaskan bahwa besar kepemilikan saham tersebut tetap sama dan tidak berubah. “Kami sampaikan juga bahwa tidak ada perubahan terhadap rencana strategis (strategic intent) perseroan untuk mengurangi utang dengan cara memonetisasi aset-aset non inti dengan harga yang wajar,” tambah Dileep, Rabu (27/2) kemarin.

Dileep menambahkan bahwa pihaknya akan menyampaikan keterbukaan informasi sebagaimana mestinya apabila ada hal-hal yang perlu diungkapkan.

Sebelumnya, diberitakan di beberapa media bahwa jumlah kepemilikan saham Bumi Resources di BRMS terus mengalami penurunan dari Agustus 2012-Februari 2013. Berdasarkan laporan Biro Administrasi Efek Sinartama Gunita per 22 Februari 2013, Bumi Resources hanya memiliki 11,55 miliar lembar saham atau setara dengan 45,19% saham BRMS.

Pada periode itu juga, saham BRMS dimiliki Long Haul Indonesia sebanyak 12,8% atau berjumlah 3,27 miliar lembar saham. Sehingga, total kepemilikan saham BRMS di atas 5% mencapai 57,99%.

Namun berdasarkan laporan keuangan konsolidasi BRMS per 30 Juni 2012, susunan pemegang saham BRMS terdiri dari Bumi Resources sebanyak 22,27 miliar lembar saham atau setara dengan 87,09% dan sisanya atau 12,91% yang berjumlah 3,3 miliar lembar saham dimiliki publik.

Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, terlihat bahwa kepemilikan Bumi Resources pada BRMS terus menyusut sejak Agustus 2012. Pada periode 16 Agustus 2012, kepemilikan Bumi Resources pada BRMS menjadi 74,04% dan beberapa kali mengalami perubahan.

Kemudian, dari laporan registrasi bulan kepemilikan saham BRMS yang dirilis pada 30 September 2012, Bumi Resources memiliki 60,9% saham BRMS dan Long Haul memiliki 14,83% saham BRMS. Anehnya, dari laporan keuangan 9 bulan pertama tahun lalu itu, susunan pemegang saham BRMS masih dikuasai BUMI sebanyak 87,09% dengan kepemilikan masyarakat di bawah 5% sebanyak 12,91%.

Divestasi BRMS
Sejak tahun lalu, ramai diberitakan bahwa manajemen BUMI berniat melepas sebagian kepemilikan saham di BRMS. Dileep pernah mengungkapkan bahwa rencana pelepasan kepemilikan saham BRMS oleh BUMI merupakan bagian dari strategi untuk pemenuhan kebutuhan pembayaran utang.

Sejak saat itu, Bumi Resources masih melangsungkan dialog dengan para calon investor penadah saham BRMS yang bakal mereka lepas. Sayangnya Dileep enggan mengungkapkan identitas calon investor berikut potensi nilai pelepasan saham BRMS.

Ada juga kabar bahwa Bumi Resources berencana menjual kepemilikannya di BRMS sebesar 20% pada kuartal III-2012. Beberapa calon investor telah menyatakan minatnya, di antaranya dari China dan Eropa. Nilai penjualan 20% saham BRMS ini ditaksir mencapai US$400 juta-US$500 juta.(Rheza/ha)

LINK