Investor Asing Akan Alihkan Sebagian Dana Dari SUN Ke Obligasi Korporasi

ori waspada co idIpotnews – Minat investor asing untuk masuk ke pasar obligasi korporasi domestik akan semakin besar mengingat tingkat imbal hasil (yield) di Surat Utang Negara (SUN) dan Surat Berharga Negara (SBN) yang akan terus mengalami penurunan. Alhasil untuk akumulasi keuntungan, investor asing akan melakukan perpindahan dana dari SUN ke obligasi korporasi.

Demikian dikatakan Senior Ekonom PT Indo Premier Securities, Seto Wardono, dalam acara Economic & Market Bond Outlook 2013 di Jakarta, Selasa (8/1). Menurut dia, nilai imbal hasil (yield) surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun akan meningkat menjadi 6,40% dari di 2012 sebesar 5,19%.

Penerbitan SUN tahun ini diperkirakan akan mencapai Rp180,44 triliun atau lebih tinggi dibandingkan estimasi penerbitan SUN di 2012 sebesar Rp176,31 triliun. Dengan asumsi tidak adanya opsi pembelian kembali (buyback) yang dilakukan pemerintah, maka total outstanding penerbitan SUN sampai dengan akhir tahun ini akan sebesar Rp263,6 triliun atau sedikit lebih rendah dibandingkan total outstanding SUN di akhir 2012 sebesar Rp268,6 triliun.

Penurunan tersebut disebabkan oleh rencana pemerintah yang ingin memprioritaskan obligasi bertenor menengah dan panjang dibandingkan berjangka waktu pendek. Adapun untuk prospek penerbitan obligasi korporasi di sepanjang tahun ini, Seto memperkirakan akan ada Rp54,58 triliun emisi obligasi korporasi yang diterbitkan tahun ini.

Sebanyak Rp27,15 triliun emisi obligasi korporasi akan jatuh tempo di 2013 dengan rincian Rp21,19 triliun berasal dari perusahaan sektor keuangan, dan Rp5,96 triliun dari sektor non keuangan. Sebagian dari jumlah tersebut akan melakukan refinancing utang dengan menerbitkan surat utang korporasi baru.

“Kami memperkirakan obligasi korporasi yang baru diterbitkan di tahun ini sebagian besar akan berasal dari perusahaan sektor pembiayaan, konstruksi, dan infrastruktur. Selain itu ada potensi emisi obligasi korporasi senilai Rp20,73 triliun akan diterbitkan dengan skema penawaran umum berkelanjutan (PUB),” ungkap Seto.

Untuk di pasar ekuitas, kemungkinan aliran dana asing yang masuk ke pasar saham tidak akan semasif di tahun lalu. Pasalnya rasio harga saham per pendapatan (price to earning ratio/PER) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini sudah terlalu mahal bila dibandingkan PER di bursa saham China dan India.

“Apalagi di tahun depan kedua negara ini akan mengalami percepatan pertumbuhan ekonomi sehingga likuiditas global akan lebih banyak mengalir ke sana,” tuntas Seto.

LINK