Ekspor Kembali Turun, Neraca Perdagangan RI Defisit Lagi

KontainerBigIpotnews – Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan ekspor RI di bulan November 2012 mengalami penurunan hingga 4,6 persen. Di sisi lain, impor terus meningkat hingga neraca perdagangan kali ini kembali tercatat defisit.

Kepala BPS Suryamin, mengatakan kinerja ekspor RI di bulan November hanya mencapai US$16,44 miliar atau turun sebesar 4,60% dibanding tingkat ekspor November 2011 lalu. Akan tetapi, lanjutnya, jika dibanding dengan Oktober 2012 ekspor mengalami kenaikan 7,30%.

Kemudian, kata dia, ekspor RI secara akumulasi Januari-November 2012 sebesar US$174,76 miliar atau turun 6,25% (yoy). Untuk ekspor non migas sendiri periode Januari-November 2012 sebesar US$140,76 miliar atau turun 5,17% (yoy). Ekspor RI terbesar adalah bahan bakar mineral sebesar US$24,15 miliar, lemak dan minyak hewan US$19,67 miliar.

“Ekspor dari sisi volume itu meningkat seperti CPO, teh dan barang perkebunan lainnya, hanya nilainya atau harganya yang turun. Artinya barangkali dampak krisis di Eropa menjadi krisis dunia itu masih terjadi sehingga permintaan turun dan harga diturunkan,” kata Suryamin dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (2/1).

Dia menegaskan, apabila kondisi perekonomian global sudah membaik, maka akan mendorong naiknya harga komoditas dunia sehingga akan mendongkrak tingkat ekspor RI kembali. “Kalau harga (komoditas dunia) naik lagi kemapuan ekspornya juga banyak lagi,” ujarnya.

Suryamin mengungkapkan, untuk tingkat impor sendiri di bulan November 2012 mencapai US$16,92 miliar atau naik 9,92% dibanding bulan yang sama tahun lalu. Akan tetapi sedikit mengalami penurunan dibanding tingkat impor di Oktober 2012.

Sedangkan total impor Januari-November 2012 sebesar US$176,09 miliar atau naik 9,40% (yoy). Dan untuk impor non migas sendiri periode Januari-November 2012 mencapai US$137,25 miliar atau naik 10,77% (yoy). Impor terbesar adalah mesin dan peralatan mekanik sebesar US$26,20 miliar lalu mesin dan peralatan listrik sebesar US$17,17 miliar.

“Ini menunjukkan adanya peningkatan nilai tambah sektor industri. Impor menurut barangnya untuk bahan baku/penolong masih meningkat, tapi dari sisi sharenya ada penurunan. Impor bahan baku/penolong 73,10 persen, barang modal 19,95 persen, dan barang konsumsi 6,95 persen,” jelasnya.

Defisit Neraca Perdagangan

Suryamin menyatakan, dengan melihat kinerja ekspor dan impor tersebut, maka neraca perdagangan November kembali mengalami defisit hinga US$478,4 juta. Pada bulan sebelumnya juga telah mengalami defisit sebesar US$1,55 miliar.

“Ekspor November 16,44 miliar dolar dan impor 16,92 miliar dolar, secara kumulatif ekspor 174,76 miliar dolar dan impor 176,09 miliar dolar, maka defisit secara kumulatif sebesar 1,33 miliar dolar,” ujarnya.

Lebih lanjut Suryamin menyatakan, untuk migas sendiri mengalami defisit sebesar US$1,358 miliar di November 2012. Sedangkan non migas masih mengalami surplus US$879,8 juta. “Akumulasi Januari-November, migas itu defisit 4,845 miliar, non migas surplus 3,513 miliar,” ungkapknya.

Dia menyatakan, bahwa tingginya defisit neraca perdagangan dari migas tidak lain karena besarnya defisit dari hasil minyak dalam hal ini BBM bersubsidi yang membengkak. Dimana share dari defisit hasil minyak mencapai -30,70%.

“Sebagian besar iya (defisit migas terbesar dari BBM subsidi), karena itu kan premium, itu yang hasil minyak. Tapi kalau prediksi Desember atau kalau akhir tahun tergantung dari krisis yang sedang berlangsung,” tandasnya.

LINK