Selama Lebih Dari 10 Tahun, 55 Emiten Ogah Bagikan Dividen

Ipotnews – Sebanyak 55 emiten yang cukup lama tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak pernah membagikan dividen lebih dari sepuluh tahun kepada pemegang sahamnya. Investor harus melihat dari sisi fundamental jika mengoleksi saham-saham ini.

Berdasarkan data yang dihimpun Ipotnews, tercatat sebelas dari saham tersebut tidak pernah membagikan dividen kepada pemegang sahamnya. Seluruh emiten tersebut sudah melakukan penawaran saham ke publik (initial public offering/IPO) antara 11-28 tahun silam.

Direktur Utama BEI, Ito Warsito, mengatakan pihaknya telah mengimbau emiten agar membagikan dividen jika mencatat keuntungan. Namun, hal itu memang tidak bisa dipaksakan jika emiten tersebut tidak mendapatkan keuntungan atau masih memiliki saldo defisit.

“Wacana mewajibkan emiten untuk membagikan dividen memang terus kami bahas, namun kami juga masih melihat apakah bertentangan dengan UU Perseroan Terbatas,” tutur Ito, di Jakarta, Senin (26/11).

Menurut Ito, jika emiten memiliki saldo laba negatif, salah satu cara agar segera membagikan dividen kepada pemegang sahamnya dengan melakukan kuasi reorganisasi untuk menghapus saldo laba negatifnya. Meski demikian, itu juga bergantung dari modal dasar dan modal ditempatkan emiten tersebut sebelum melakukan kuasi reorganisasi.

Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo, mengatakan ada tiga alasan yang membuat emiten tidak membagikan dividen kepada pemegang sahamnya. Pertama, emiten tersebut tidak memperoleh laba, kedua karena perusahaan yakin dapat memberikan keuntungan yang lebih tinggi kepada pemegang saham dari kenaikan harga sahamnya (capital gain) dibandingkan memberikan return dalam bentuk dividen, dan ketiga, karena laba yang diperoleh emiten tersebut berasal dari restrukturisasi asetnya (financial engineering) dan bukan karena kinerja operasionalnya.

Atau ada juga kategori perusahaan yang tidak pernah membagikan dividen karena investor mayoritasnya tidak membutuhkan dana. Seperti PT Schering Plough Indonesia Tbk [SCPI 0 -29050 (-100,0%)] dan PT Bank Permata Tbk [BNLI 0 -1420 (-100,0%)].

Untuk Bank Permata, lanjut Satrio, pemegang saham mayoritasnya, yakni PT Astra Internasional Tbk [ASII 7,850 -50 (-0,6%)] dan Standard Chartered Bank kemungkinan memang tidak membutuhkan dana dari dividen. Pemegang saham mayoritasnya juga lebih memilih untuk memberikan porsi dividen untuk memperbesar aset Bank Permata.

Risiko Tak Likuid
Terkait dengan wacana otoritas BEI untuk mewajibkan emiten membagikan dividen, Satrio menilai hal tersebut agak sulit direalisasikan. Pasalnya, jika memang kinerja operasional emiten yang bersangkutan kurang prospektif, sulit untuk memberikan dividen kepada pemegang sahamnya.

“Kepada investor yang ingin berinvestasi di saham-saham tersebut, sebaiknya melihat keuntungan dari kenaikan harga sahamnya. Walaupun memang salah satu cara yang dapat merangsang pergerakan harga sahamnya adalah seringnya emiten tersebut membagikan dividen kepada pemegang sahamnya. Jika memang investor tetap ingin berinvestasi di saham tersebut, ada risiko sahamnya tidak likuid,” imbuh dia. (Rheza Andhika)

Selengkapnya