Studi: Perempuan dalam Media Masih Dipandang Secara Seksual

Ipotnews – Kekerasan simbolik terhadap perempuan menemukan tempatnya yang paling subur dalam media massa.  Perempuan dalam abad baru sensualisme media kerap menjadi objek yang hanya menonjolkan sisi seksualnya.

Di dalam media visual seperti televisi dan film, paradigma yang melukiskan perempuan sebagai karakter serba spectacle (tontonan) semakin kuat. Tataran tersebut semakin jelas dalam temuan sosiolog Amerika Serikat, Stacy L. Smith baru-baru ini.

Melansir situs Huffingtonpost Senin (19/11), dalam serial Homeland yaitu Carrie Mathison yang diperankan Claire Danes, boleh saja menggambarkan sosok perempuan tangguh. Tetapi, ada enam karakter perempuan “suram” dalam serial Real Housewives yang terkenal itu. Inilah yang menjadi keprihatinan tim peneliti gabungan antara USC Annenberg dan Geena Davis Institute on Gender in Media.

Pakar sosiologi Stacy L. Smith menganalisa 11.927 karakter perempuan yang berperan penting dalam program-program televisi dalam film yang tayang pada musim semi 2012 di AS. Sebagai rujukan, Smith juga mengambil data dari beberapa acara anak-anak di televisi yang tayang pada 2011 dan film-film keluarga yang dirilis dari 2006 hingga 2011.

Peneliti mempelajari karakter semua perempuan dalam referensi tersebut dari sisi tingkat pengetahuan, penampilan, ukuran tubuh dan kemampuan mereka saat menyampaikan pendapat.

Berdasarkan pegamatan tim, pada televisi pada jam tayang utama sekitar 44,3 persen perempuan ‘fiktif’ tersebut mendapat pekerjaan. Tapi, perempuan-perempuan golongan itu cenderung memakai busana minim atau mempertontonkan beberapa bagian tubuhnya. Mereka juga cenderung menginginkan bentuk tubuh yang mengikuti tren.

“Semua tayangan di jam utama (prime time) dan film-film keluarga, remaja perempuan ditampilkan dalam kondisi tubuh kurus,” kata Smith dalam laporannya.

Peneliti menyimpulkan bahwa minimnya aspirasi peran-peran panutan perempuan dalam tiga kategori media dalam tayang film dan televisi. Mereka juga mencatat, tidak cukup ada karakter perempuan yang bekerja dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika.

Sebaliknya, karakter perempuan dalam media visual itu menyatakan antara lain, perempuan tersisihkan, perempuan sering distereotipkan, secara seksual, keberadaan dalam pekerjaan yang tidak seimbang dengan pria.

“Remaja putri dan putra seharusnya melihat para perempuan pengambil keputusan, pemimpin politik, manajer dan ilmuwan. Dengan menambah jumlah dan keberagaman dalam pemimpin-pemimpin perempuan dan model-model panutan di layar kaca dan film, para pencipta tayangan bisa mempengaruhi ambisi dan aspirasi karier pada remaja putri,” demikian bunyi inklusi peneliti.

Sementara itu, pendiri dan donatur studi dari Institute on Gender in Media, Geena Davis menambahkan, data penelitian baru dari tim Smith akan menyediakan pandangan bagus tentang kesempatan bagi komunitas hiburan untuk mempengaruhi dan menginspirasi anak-anak dalam mempertimbangkan jalur karier yang tidak stereotip.

Sebelumnya, telah ada penelitian yang menyebutkan bahwa televisi dan film mempengaruhi perspektif dan penilaian anak-anak dalam gender perempuan berikut aspirasi terhadap karier.

Kaum muda di AS yang berusia 8-18 tahun menurut studi dari Kasier Family Foundation pada 2011, mengonsumsi rata-rata media hiburan tujuh jam dan 38 menit setiap hari. Sebanyak 71 persen responden memiliki perangkat layar kaca di kamar mereka. (Vina)

Keterangan foto: Ilustrasi. Diambil dari www.huffingtonpost.com

LINK