Saham Emiten Migas Tidak Terpengaruh Pembubaran BP Migas

Ipotnews – Pembubaran Badan Pengelola Minyak dan Gas Alam (BP Migas) dinilai tidak begitu berdampak terhadap perusahaan produsen migas yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pengaruh dari keputusan Mahkamah Konstitusi pada awal pekan lalu tersebut lebih berpengaruh ke sektor riil industri migas, khususnya kepada investasi perusahaan migas asing yang masuk ke Indonesia.

Demikian dikatakan Research Analyst PT Danpac Securities, Teuku Hendry Andrean, kepada ipotnews, Senin (19/11). Keputusan MK terkait pembubaran BP Migas memang menyebabkan ketidakjelasan tentang pihak yang berwenang mengelola sumber daya alam migas Indonesia. Akan tetapi karena saat ini kontrol BP Migas dialihkan kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), maka pengaruhnya lebih kepada investasi perusahaan migas Asing.

“Harga saham emiten produsen dan distributor migas lebih dipengaruhi oleh kurs nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, khususnya dolar Amerika Serikat. Pasalnya sebagian besar pendapatan emiten sektor migas berbentuk denominasi US$,” jelas Hendry.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), dari tujuh emiten yang bergerak di sub sektor pertambangan minyak dan gas bumi, hanya PT Energi Mega Persada Tbk [ENRG 79 -1 (-1,3%)] dan PT Surya Esa Perkasa [ESSA 2,800 0 (+0,0%)] yang harga sahamnya turun dari 12 November 2012 atau sebelum keputusan MK terkait pembubaran BP Migas dikeluarkan, sampai penutupan harga saham hari ini dengan penurunan masing-masing 3,57% dan 1,79%. Sedangkan untuk saham sub sektor energi, dari tiga emiten hanya saham PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk [PGAS 4,550 50 (+1,1%)] yang harga sahamnya turun sebesar 1,64%.

Direktur dan CEO MEDC, Frila Berlini Yaman, pun menegaskan bahwa pembubaran BP Migas tidak berdampak terhadap operasional perusahaan. Pasalnya Kementerian ESDM sendiri sudah mengapresiasi dua keputusan Menteri ESDM terkait pengambialihan tugas dan tanggung jawab BP Migas secara cepat. “Bisnis kami berjalan seperti biasa, tidak ada dampak terhadap operasional perusahaan,” ujarnya.

Kurang Prospektif
Meski demikian, Hendry melihat bahwa emiten PGAS masih prospektif untuk dikoleksi investor dalam jangka menengah dan jangka panjang. Pasalnya proyek pipanisasi gas yang dimiliki perseroan membuat potensi pertumbuhan kinerja PGAS positif dalam beberapa tahun mendatang.

“Sedangkan untuk saham-saham migas lainnya, seperti MEDC ataupun ENRG, mungkin investor harus berhati-hati ketika mengoleksinya karena harga sahamnya sedikit anomali terhadap pergerakan harga komoditas dunia. Jadi apabila harga minyak dunia meningkat, belum tentu akan terefleksi kepada peningkatan harga sahamnya,” tambah Hendry.Rheza

LINK

Daftar Emiten Pertambangan Migas
Sektor Pertambangan
Sub Sektor Pertambangan Minyak dan Gas Bumi
No Nama Emiten Ticker Closing 12/11 Closing 19/11 ^%
1 Ratu Prabu Energi Tbk ARTI 270 305 12.96
2 Benakat Petroleum Energy Tbk BIPI 179 240 34.08
3 Elnusa Tbk ELSA 180 180 0.00
4 Energi Mega Persada Tbk ENRG 84 81 -3.57
5

Surya Esa Perkasa Tbk

ESSA 2800 2750 -1.79
6 Medco Energi Internasional Tbk MEDC 1550 1580 1.94
7 Radiant Utama Interinsco Tbk RUIS 225 225 0.00
Sektor Infrastruktur
Sub Sektor Energi
No Nama Emiten Ticker Closing 12/11 Closing 19/11 ^%
1 Leyand International Tbk LAPD 127 132 3.94
2 Perusahaan Gas Negara Tbk PGAS 4575 4500 -1.64
3 Rukun Raharja Tbk RAJA 490 490 0.00
Sumber : Bursa Efek Indonesia