Bakteri Ini Bisa Menghasilkan Emas 24 Karat

Ipotnews – Bayangkan jika sebuah bakteri yang merugikan bagi makhluk hidup, berubah menjadi elemen utama pembuat emas 24 karat. Melaui kajian ilmu kimia modern bahkan bakteri ini pun dipercaya menjadi cikal bakal ‘ramuan keabadian’.

Sebuah tim pilmuwan dari Michigan State University, Amerika Serikat meneliti unsur yang terkandung dalam bakteri yang diklaim sama dengan zat mitos batu filosof (philosopher’s stone). Berdasarkan mitos, batu tersebut dianggap mujarab untuk menyembuhkan beragam penyakit hingga member kehidupan abadi.

Terlepas dari itu, seperti dilansir situs Dailymail Senin (8/10), peneliti mengklaim temuan bakteri ‘ajaib’ ini cukup mendekati batu filosof yang telah lama jadi incaran itu. Bakteri yang ini bernama Cupriavidus metallidurans yang toleran terhadap logam, ternyata ia tumbuh dalam konsentrasi besar klorida emas yang justru tak dihuni oleh makhuk hidup lain.

Bakteri Cupriavidus metallidurans mampu mengubah senyawa kimia beracun yang teradpat di alam menjadi material solid yakni emas 24 karat. Gumpalan emas yang tidak dihasilkan melalui proses penambangan itu, terbentuk dari ‘kotoran’ makhluk yang amat kecil.

“Ini merupakan alkimia mikroba, mengubah emas dari sesuatu yang tidak bernilai, menjadi logam mulia padat yang berharga,” kata assistant professor mikrobiologi dan genetika molekuler Kazem Kashefi.

Kashefi dan rekannya, Adam Brown menemukan, Cupriavidus metallidurans dapat tumbuh dalam konsentrasi besar klorida emas, senyawa kimia beracun yang ditemukan di alam, yang sering juga disebut “emas cair”. Mereka juga menemukan, bakteri tersebut setidaknya 25 kali lebih kuat dari yang diduga sebelumnya.

Kedua ilmuwan membuat sebuah laboratorium portable untuk menunjukkan bagaimana cara kerja bakteri itu melalui sebuah seni instalasi bernama, “The Great Work of the Metal Lover” yang merupakan kombinasi dari bioteknologi, seni dan alkimia.

Brown dan Kashefi mengumpan bakteri Cupriavidus metallidurans dengan klorida emas dengan jumlah besar, meniru proses yang mereka yakini terjadi di alam. Butuh waktu selama sekitar sepekan, agar bakteri tersebut memetabolis racun dan akhirnya memproduksi bongkahan emas.

Instalasi “The Great Work of the Metal Lover” kata Brown, intinya bagaimana memanfaatkan sistem kehidupan sebagai sarana sebuah eksplorasi artistik.  Semacam neo-alkimia yang setiap bagian dan detil proyek adalah persilangan antara mikrobiologi modern dan alkimia.

Lantas apakah bakteri ini menjadi harta karun untuk mendongkrak harga emas yang melejit akhir-akhir ini? Menurut ilmuwan, sama sekali bukan. Meski kedengarannya menarik, biaya yang dibutuhkan untuk mereproduksi eksperimen mereka dalam skala yang lebih luas, luar biasa mahal.

Selain itu, kesuksesan menciptakan emas menimbulkan banyak pertanyaan tentang dampak ekonomi dan sosial, etika yang berkaitan dengan ilmu dan rekayasa alam serta dampaknya pada keserakahan manusia.

LINK