Minta Uang Melulu, Anggota DPR Minta Merpati Dibubarkan

Ipotnews – Anggota Komisi XI DPR, Melchias Markus Mekeng meminta agar pemerintah membubarkan PT Merpati Nusantara Airlines (Persero). Keinginan ini terkait dengan persoalan keuangan perusahaan yang penyelesaiannya selalu melewati bantuan Penyertaan Modal Negara (PMN).

“Selama sepuluh tahun terakhir Merpati selalu tidak pernah bisa keluar dari masalah keuangan. Sepanjang Merpati tidak bankable, maka selama itu pula perusahaan akan selalu minta suntikan dana,” kata Mekeng di Gedung DPR Jakarta, Selasa (25/9).

Mekeng mengungkapkan, manajemen Merpati selalu dihadapkan dengan persoalan keuangan dan merugikan anggaran negara, sehingga Merpati sebaiknya berhenti untuk beroperasi. “Sebenarnya, penyelamatan Merpati yang terdahulu pun hanya dikarenakan sejarahnya. Kalau ingin dipertahankan, sebaiknya Merpati dijadikan perusahaan umum yang bekerja secara sosial. Karena, dari sisi manajemen perusahaan sudah tidak sehat,” jelasnya.

Sebelumnya, di tempat yang sama, Direktur Utama Merpati, Rudy Setyopurnomo, meminta agar DPR menyetujui usulan PMN senilai Rp200 miliar untuk tahun anggaran 2013. “Saat ini, dengan pesawat tua Merpati akan sulit berkompetisi, karena akan menghasilkan yield yang rendah. PMN Rp200 miliar ini nantinya akan kami pergunakan untuk perbaikan Merpati,” kata Rudi.

Lebih lanjut Mekeng menegaskan, saat ini DPR tidak meyakini kalau Merpati akan mampu keluar dari persoalan neraca keuangan perusahaan yang negatif sebesar Rp3 triliun. “Kalau pun kami setujui tambahan 200 miliar, kami yakin pada tahun depan Merpati akan kembali meminta lagi. Kalau saat ini PNM disetujui, maka Merpati mendapatkan bantuan dari uang negara lebih dari Rp1 triliun,” ucapnya.

Sementara itu, Mantan Direktur Utama PT Merpati Nusantara Airlines (PT MNA), Sardjono Jhony Tjitrokusumo, menyatakan manajemen baru Merpati dibawah naungan Rudy Setyopurnomo belum bisa mendatangkan keuntungan. Hal ini dikarenakan strategi yang diterapkan, sedikit terbang sedikit rugi dan tidak terbang maka tidak rugi.

“Teori yang digunakan manajemen sekarang yaitu dengan sedikit terbang sedikit rugi dan tidak terbang maka tidak rugi. Sama halnya dengan kita sedikit belajar, sedikit lupa,” ujar Jhony saat ditemui di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Selasa (25/9).

Jhony membandingkan dengan dirinya waktu memimpin PT Merpati Nusantara Airlines dengan menambah alat produksi dan melakukan penetrasi ke pasar. “Lakukan segala sesuatu yang sifatnya promosi. Bagaimana kita bisa berkompetisi dengan yang lain,” ujar Jhony.

Namun Jhony optimistis bahwa Merpati memiliki potensi untuk memperbaiki keuangannya untuk tetap tumbuh dan berkembang pada saat kepemimpinannya.

Terbukti, Jhony menambahkan pada tahun 2010 sebelum pemerintah membantu Merpati dengan Penyertaan Modal Negara (PMN). Merpati sudah memperoleh keuntungan sebesar Rp234 juta dan pada paruh terakhir membukukan laba operasi sekitar Rp57 miliar. “Kita doakan saja bisa sukses dengan konsep baru,” ujarnya.

Jhony memberikan masukan kepada DPR RI agar PMN datang pada tepat waktu dan tepat dosis kepada PT MNA. “Kendala Merpati selama ini, PMN selalu datang terlambat. Jadi tidak tepat waktu. Asumsinya yang tadinya cair bulan maret, jadinya cair bulan September,” ujar Jhony.

LINK