IMF: RI Tempatkan Diri Dengan Baik di Tengah Badai Ekonomi Global

Ipotnews – Dana Moneter Internasional kembali memuji pengelolaan ekonomi Indonesia. Dalam tinjauan tahunan terbaru, lembaga keuangan internasional itu menyatakan, Indonesia telah menempatkan diri dengan baik di tengah badai krisis ekonomi global yang terus memburuk.

Seperti dilansir laman ft.com, Rabu (26/9), IMF menilai krisis yang sedang berlangsung di AS dan Eropa, juga perlambatan pertumbuhan di China dan India, akan sedikit menghambat prospek ekonomi Indonesia. Sehingga, IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 6 persen dari perkiraan tahun lalu sebesar 6,5 persen.

Namun, lanjut tinjauan tersebut, permintaan domestik yang kuat, yang menyumbang dua-pertiga produk domestik bruto (PDB), akan membantu melindungi perekonomian terbesar di Asia Tenggara itu dari lesunya perekonomian global. Tambahan lagi, sektor korporasi dan keuangan dinilai berada dalam posisi yang relatif sehat untuk bertahan dari penularan krisis keuangan.

Disebutkan, pemerintah, yang seperti bank dan perusahaan swasta berhati-hati menumpuk utang terlalu banyak sejak krisis keuangan Asia 1997, juga dalam posisi yang baik untuk memberikan stimulus fiskal bagi perekonomian.

“Idealnya, daftar proyek infrastruktur yang bisa cepat menggenjot produksinya bisa disiapkan, tetapi mengingat kendala pelaksanaan pengeluaran, cara lain untuk menyuntikkan stimulus fiskal, seperti transfer tunai langsung, mungkin juga perlu dipertimbangkan,” kata IMF.

Sebelumnya para ekonom, antara lain dari Credit Suisse dan Morgan Stanley, mengingatkan bahwa pelemahan neraca pembayaran Indonesia akhir-akhir ini kemungkinan merupakan tanda overheating ekonomi, dengan impor yang melonjak untuk memenuhi permintaan domestik dan sebaliknya ekspor melorot.

Tetapi, IMF mendukung penjelasan pemerintah Indonesia bahwa pelemahan tersebut “alami dan konsekuensi dari pembangunan ekonomi, ketika para importir mendatangkan mesin dan barang modal yang sangat diperlukan untuk memperkuat basis ekonomi.

“Defisit neraca pembayaran saat ini bukan karena pelemahan fundamental perekonomian Indonesia, namun terkait rencana pemerintah untuk mendorong investasi pada skala menengah, dan memperkuat skema perlindungan sosial,” kata Sanjaya Panth, Kepala IMF di Indonesia.

LINK