Secara Teknikal IHSG Berpeluang Rebound Meski Yunani Masih Bergolak

Ipotnews – Sepekan terakhir Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak terbatas. Analis dari Askap Futures Kiswoyo mengatakan, pergerakan IHSG pada perdagangan Senin (28/5) masih akan bergerak sideway menyusul pergerakan IHSG pekan kemarin yang mengalami penurunan cukup dalam sebesar 82,365 poin atau turun 2,07 persen ke level 3.902,508.

Hal tersebut didorong oleh menurunnya indeks saham unggulan LQ 45 yang turun 16,227 poin atau 2,41 persen ke angka 657,876.
Namun, kata Kiswoyo, walaupun pada perdagangan Senin (28/5) IHSG akan bergerak turun, tetapi penurunannya hanya sedikit, begitu pun sebaliknya.

“Kalo pun turun, paling tipis, naik juga tipis karena kemarin Dow Jones turun 0,74 persen,” kata Kiswoyo kepada Ipotnews.com, Minggu (27/5).

Menurutnya, karena pada Jumat (25/5) market mengalami penurunan yang cukup dalam, maka setidaknya secara teknikal IHSG pada perdagangan hari ini bisa mengalami rebound. “Itu secara teknikal  begitu,” katanya.

Untuk itu, dia memprediksi IHSG akan berada pada support 3850 dengan resistance di angka 4000 dengan saham-saham pilihan ASII, UNTR, UNVR, ITMG

Sementara itu, Analis Indosurya Asset Management Reza Priyambada mengatakan, tekanan jual di bursa saham Indonesia tampaknya belum berakhir.

Sentimen yang ada membuat pelaku pasar panik akan masa depan bursa saham yang masih akan terpengaruh krisis politik dan ekonomi Eropa sehingga ramai-ramai melancarkan aksi jual.

Fundamental perusahaan dan banyaknya berita pembagian dividen pun terlihat tidak berpengaruh pada sikap pelaku pasar yang masih memilih untuk melepas kepemilikannya pada saham.

“Pergerakan mix bursa saham AS sedikit banyak mempengaruhi perdagangan bursa saham Asia, termasuk BEI,” kata Reza.

Menurutnya, di sisi lain, adanya kenaikan pada beberapa bursa saham Asia, terutama Hang Seng, juga tidak mampu membendung aksi jual saham oleh investor.

Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 3.970,24 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan juga sempat menyentuh level 3.885,60 (level terendahnya) di pertengahan sesi 2 dan akhirnya berhasil bertengger di level 3.902,51.

“Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat naik. Investor asing mencatatkan nett sell. Investor domestik mencatatkan nett buy,” rincinya.

Sementara itu, bursa saham Asia Pasifik bergerak variatif dengan pelemahan pada bursa saham Australia, Bangladesh, China, Taiwan, dan India.

“Pergerakan dipicu masih adanya kekhawatiran pelaku pasar terhadap sentimen yang ada, baik dari zona Eropa maupun dari regional sendiri,” ungkapnya.

Reza menjelaskan, rilis data manufaktur China yang mengalami perlambatan di bulan Mei masih mempengaruhi psikologis pelaku pasar pada perdagangan di akhir pekan. Selain itu, kepastian Yunani masih berada di zona Euro atau tidak juga telah menimbulkan tambahan kekhawatiran pasar.

Pasar terus menantikan kepastian tersebut. Kondisi ketidakpastian ini membuka trauma lama investor terhadap kejadian bangkrutnya Lehman Brothers. Oleh karena itu, investor tidak ingin meremehkan dan mengesampingkan masalah di Yunani, walaupun Yunani hanya negara biasa-biasa saja.

“Itulah sebabnya pelaku pasar lebih memilih untuk mengamankan portofolionya, jika masih sempat, karena khawatir akan terjadinya sesuatu yang buruk menimpa Yunani dan Eropa secara keseluruhan,” terangnya. (Dewi)

LINK