Pakar Australia: Stop Perlakukan Indonesia Sebagai Negara Miskin dan Lemah!

Ipotnews – Australia harus berhenti memperlakukan Indonesia sebagai negara miskin dan lemah. Lalu, Canberra harus bersiap diri berhadapan dengan Indonesia yang kaya dan berperan penting di regional.

Hal tersebut diungkapkan akademisi Australian National University (ANU), Hugh White, yang juga merupakan mantan pejabat pertahanan senior Australia.

“Orang (Australia) akan merasa sulit membayangkan harus mengalihkan pandangan ke Indonesia ketika negara itu memiliki perekonomian dua kali lipat dari yang kita (Australia) miliki,” papar White, di Sydney, seperti dirilis Deutsche Presse-Agentur, Jumat (25/5). “Selama ini kita menentukan hubungan (dengan Indonesia) berdasarkan prasyarat kita, itu tak mungkin lagi dilakukan.”

Menurut dia, Canberra sebagai donor bantuan terbesar bagi Indonesia, bisa jadi membodohi diri sendiri jika berpikir Jakarta akan berterima kasih atas bantuan yang diberikan yang porsinya sangat kecil jika dibandingkan dengan anggaran Indonesia yang terus berkembang.

“Orang (umumnya) tidak akan suka diperlakukan sebagai miskin dan lemah, seperti kita memperlakukan Indonesia selama ini. Saya kira kita hanya menumpuk masalah jangka panjang dalam hubungan dengan Indonesia, jika hanya menekankan bantuan sebagai cara kita berhubungan dengan Indonesia saat ini.”

White lalu mendesak Canberra untuk menyisihkan seperlima dari anggaran bantuan tahunannya yang sebesar USD560 juta, untuk membiayai 10 ribu pelajar dan mahasiswa Australia untuk belajar bahasa dan budaya Indonesia.

“Penekanan bukan pada kita membantu mereka (Indonesia), tapi bagaimana kita mempelajari mereka. Saat ini kita harus bekerja bagaimana berhubungan dengan kekuatan yang lebih besar – bahkan kekuatan besar – di sebelah rumah kita,” papar White, seraya mengingatkan selama ini Australia tak punya pengalaman memiliki tetangga “berkekuatan besar”.

Pada kesempatan yang sama, Duta Besar Australia di Jakarta, Greg Moriarty, menambahkan Indonesia merupakan satu dari hanya tiga negara Asia dengan pertumbuhan di atas 6 persen tahun lalu, dan memiliki kelas menengah lebih besar dari keseluruhan penduduk Australia yang berjumlah 22 juta jiwa.

LINK