Mahathir: Hengkangnya Yunani Tak Begitu Berdampak terhadap Asia

Ipotnews – Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, menilai jika Yunani keluar dari zona euro tak begitu berdampak terhadap negara-negara Asia dan Mediterania.

“Saya pikir jika yang keluar hanya Yunani, pengaruhnya terhadap pasar keuangan Asia tidak begitu besar,” papar Mahathir seperti dilansir laman Bloomberg, Senin (28/5). “Dampak yang ditimbulkannya kemungkinan lebih dirasakan Eropa ketimbang negara lain di seluruh dunia.”

Mahathir, 86, bergabung dengan para pemimpin dunia lainnya dalam sebuah diskusi yang digagas Bloomberg, di Tokyo, Jepang, untuk membahas kemungkinan hengkangnya Yunani dari zona euro apakah akan memperburuk krisis utang di Eropa.

Menurut para pengambil kebijakan, termasuk Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Christine Lagarde, kemungkinan Yunani meninggalkan zona euro—dikhawatirkan bisa menghapus mata uang secara umum senilai empat triliun dollar AS dari ekuitas global pada bulan ini—merupakan sebuah pilihan.

“Meski begitu, mereka (para pengambil kebijakan) harus lebih serius mempertimbangkan opsi jika Yunani keluar dari euro. Mereka tidak bisa mendevaluasi euro agar menjadi lebih kompetitif,” ucap Mahathir.

Namun, pandangannya berbanding terbalik dengan pernyataan Gubernur Bank Sentral Malaysia, Zeti Akhtar Aziz, yang ikut membantu Mahathir saat membawa negara itu melewati krisis moneter global pada 1998.

“Keluarnya Yunani bisa menyebabkan penularan ke kawasan lain, dan memiliki konsekuensi ‘yang tak terbayangkan’ bagi negara-negara Eropa,” ujar dia dalam sebuah wawancara awal bulan ini.

Ketika ditanya mengenai makin banyaknya suara-suara yang menentang program penghematan, Mahathir menilai seharusnya langkah tersebut jangan diterapkan terlalu kaku. Namun, kata dia, rakyat Eropa dan Amerika Serikat harus menyesuaikannya dengan standar hidup yang lebih rendah.

“Fasilitas yang diberikan Eropa dan Amerika Serikat kepada rakyatnya terlalu tinggi. Memberikan mereka semua berbagai tunjangan, seperti tunjangan bagi para pengangguran dan pensiun dini,” tutur Mahathir.

Lambatnya pertumbuhan Eropa dan Amerika Serikat, tambah Mahathir, berkaitan erat dengan gonjang-ganjing politik dan ekonomi yang telah merugikan Malaysia dan negara-negara eksportir asal Asia lainnya, karena mereka kehilangan pasar. Selain itu, perlambatan di China, negara dengan tingkat perekonomian terbesar di Asia, juga bisa mengancam ekspor.

“Jika ada perlambatan di China, kita akan menderita karena kehilangan pasar yang begitu besar di negara itu. Pada saat bersamaan, kita mungkin dapat meningkatkan daya saing produk,” jelas dia.

LINK