Tekanan Jual Surut, IHSG Berpotensi Rebound

Ipotnews-Analis Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, Indeks Dow Jones Industrial mengalami teknikal rebound dengan membaiknya sentimen pasar terkait pernyataan-pernyataan dari para pemimpin G8 mengenai dukungannya terhadap masalah yang sedang dihadapi oleh Yunani.

Tercatat, Indeks DJI bergerak naik 1,09% dan berhasil ditutup diatas level psikologis 12500. Meskipun demikian, indeks ini masih gagal untuk ditutup diatas resisten pertamanya, 12539. Artinya, meskipun DJI naik, tapi kita masih harus melihat apakah kenaikan tersebut dikonfirmasi oleh adanya signal positif di bursa Asia dan juga pada IHSG untuk meyakinkan bahwa trend turun sudah berakhir.

Untuk itu, Satrio memprediksi IHSG hari ini (22/5) diperkirakan bakal bergerak flat-naik pada kisaran 3900-3960. IHSG baru memberikan signal bullish jika mampu ditutup di atas 3960 dengan potensi kenaikan hingga 4075 – 4125. Sementara itu, Indeks Hang Seng bakal memberikan signal positif jika mampu ditutup di atas kisaran gap 18985-19139.

“Rebound lanjutan pada IHSG sangat bergantung pada berakhirnya tekanan jual pemodal yang hingga perdagangan kemarin, masih terus meningkat,” kata dia kepada Ipotnews.com.

Berikut beberapa saham yang sedang berada di atas support, di antaranya SMGR, BBRI, ASII, dan UNTR.

Hal yang sama juga diungkapkan Analis Indosurya Securities Asset Manajemen Reza Priyambada. Menurutnya, meskipun perdagangan di BEI mengalami libur selama 2 hari di pekan kemarin, namun ternyata kondisi bursa saham global tidak begitu baik sepenuhnya.

“Harapan selama libur 2 hari akan terjadi perbaikan di bursa saham global tidak terjadi,” kata Reza.

Reza bilang, pergerakan bursa saham Asia yang bervariatif juga tidak membuat IHSG beranjak dari zona merah. Sentimen negatif masih dari krisis Eropa yang tak jelas kapan berakhirnya dan melambatnya ekonomi China.

Apalagi, dia melanjutkan, rilis berita akan keluarnya Yunani dari zona Euro kian banyak beredar dan mulai pupusnya harapan investor terhadap ekonomi China.

“Itu menjadikan pasar bersikap pesimis,” katanya.

Reza menjelaskan, sepanjang perdagangan kemarin, IHSG menyentuh level 3.958,47 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan juga sempat menyentuh level 3.997,51 (level terendahnya) di awal sesi 2 dan akhirnya berhasil bertengger di level 3.940,11.

“Volume perdagangan tercatat turun dan nilai total transaksi tercatat naik. Investor asing mencatatkan nett sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy,” rincinya.

Sementara itu, bursa saham Asia Pasifik bergerak variatif dimana penguatan terjadi pada bursa saham Jepang, KorSel, Australia, Bangladesh, dan China.

“Meski masih terdapat bayang-bayang kondisi ekonomi dan politik Eropa yang belum menunjukkan perbaikan namun, pelaku pasar mulai melakukan aksi beli secara bertahap sambil wait & see terhadap sentimen yang akan muncul,” terangnya.

Selain itu, kata Reza, adanya pertemuan G8 di AS sedikit membantu mengurangi tekanan jual setelah pelaku pasar merespon positif pernyataan PM Wen Jiabao yang akan memfokuskan pada upaya memperkuat pertumbuhan ekonomi untuk mengimbangi krisis yang terjadi.

Pernyataan ini diindikasikan akan adanya upaya pelonggaran ekonomi lanjutan. Apalagi China dikabarkan akan mempercepat persetujuan perizinan bagi investor asing yang telah memenuhi syarat untuk menanamkan dana investasinya di China.

Namun demikian, pasar masih belum sepenuhnya yakin akan upaya pemulihan krisis global karena secara keseluruhan pertemuan G8 masih berselisih pendapat mengenai upaya pemulihan tersebut.

Reza memprediksi, pada perdagangan Selasa (22/5) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.910-3.925 dan resistance 3.958-3.970.

Berikut rekomendasi sahamnya :  LSIP, ROTI, GGRM, CTRA, SSIA, ADHI, & MAPI.

LINK