Mata Uang Asia Akan Terus Melemah: Citigroup

Ipotnews – Mata uang Asia terdorong terus turun setelah penurunan terbesar dalam delapan bulan karena perekonomian kawasan merosot melebihi perkiraan investor, sehingga memicu pemangkasan suku bunga. Volatilitas akan meningkat akibat krisis utang Eropa yang mencederai permintaan ekspor Asia.

Nadir Mahmud, kepala pasar Asia-Pasifik Citigroup, Singapura mengatakan, permasalahan tersebut di atas dipicu oleh langkah manajer keuangan global yang mengalihkan aset-aset berisiko ke dolar yang dinilai lebih aman. “Pelambatan di Asia yang akan kita lihat dalam waktu dekat ini akan melemahkan pasar,” kata Mahmud, seperti dikutip cnbc.com (Senin, 21/5). “Yang akan kita lihat adalah gerakan naik dolar dan penurunan suku bunga yang tidak diharapkan oleh banyak orang.”

Menurut Mahmud, investor akan menyaksikan kekacauan di pasar valuta asing, pasar obligasi dan pasar saham lokal. “Dalam jangka pendek, dalam kondisi menghindari risiko, dolar akan tetap tampak seperti raja,” ujarnya. Ia menambahkan, meningkatnya volatilitas akan membantu bank di Asia untuk mencapai pertumbuhan perdagangan “dua-dijit.” Survei Euromoney menunjukkan, perdagangan valuta asing Asia di New York , termasuk sistem perdagangan elektronik Citi FXVelocity, pada tahun terakhir tumbuh mencapai 4,3 triliun dolar AS, jauh lebih tinggi dari sebelumnya yang sebesar 2,5 triliun dolar, dan mendorong pangsa pasar hingga 17 persen. Volumenya, “naik signifikan,” kata Mahmud.

Data pemerintah China yang dirilis bulan ini memperlihatkan penurunan ekspor, output pabrikan, dan arus masuk dana investor asing. Laporan lain menyebutkan, pengapalan keluar negeri dari Korea Selatan, Malaysia, dan Philipina melorot. Bank sentral Korea dan Indonesia mempertahankan suku bunga acuan bulan Mei.

Mahmud memperkirakan, pembuat kebijakan di Asia kemungkinan akan menggeser fokus untuk memperkuat pertumbuhan yang mengandung inflasi, dengan menyuntikkan dana ke ekonomi kawasan. “Reaksi kebijakan di AS berlangsung sangat agresif,” ujarnya. Sedangkan di Asia, “ada bank sentral yang masih belum bereaksi, namun pelambatan pertumbuhan ekonomi akan memaksa mereka untuk bereaksi,” katanya.

Mata uang Asia, kata Mahmud, akan rebound dalam jangka panjang seiring dengan perbaikan neraca transaksi berjalan dan keuangan pemerintah. “Fundamental Asia cukup positif,” ujar Mahmud. “Sebagian besar negara memiliki surplus neraca transaksi berjalan dan tidak mempunyai utang besar seperti Eropa. Asia bisa jadi tersedak sebentar namun dalam jangka panjang, prospeknya akan kembali positif,” papar Mahmud.

LINK