Minim Sentimen Positif, IHSG Diprediksi Bergerak Sideway

Ipotnews-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok ke jurang negatif setelah mendapat sentimen negatif dari pergerakan bursa saham regional.

Analis Indosurya Securities Asset Management Reza Priyambada mengatakan, ketidakjelasan arah politik di Yunani telah memicu investor global melakukan aksi jual dan memilih aset dolar sehingga mengakibatkan minimnya sentimen positif dan perdagangan minim aksi beli.

Menurutnya, arah bursa saham Asia yang terus bergerak di zona merah membuat investor di dalam negeri pun terpengaruh untuk melakukan aksi jual. Meski aksi beli cukup banyak terjadi di akhir perdagangan, namun IHSG belum mampu keluar dari teritori negatif meskipun setidaknya masih bisa sedikit mengurangi koreksi.

Reza mengungkapkan, bursa saham Asia Pasifik bergerak variatif cenderung negatif. Pergerakan di hari Rabu (16/5) kemarin, mayoritas ditutup melemah seiring makin tidak jelasnya kondisi politik di Yunani sehingga menutup sentimen positif dari stabilnya inflasi dan kenaikan data manufaktur di AS.

Dia menjelaskan, saham eksportir dan pertambangan melemah karena ketidakpastian Eropa memicu pelemahan Yen terhadap dolar dan anjloknya harga komoditas.

Sementara itu, kondisi berbeda terjadi di hari Kamis (17/5), dimana mayoritas bursa saham Asia ditutup menguat setelah adanya beberapa akumulasi beli bertahap pada saham-saham yang telah turun dalam. Terutama pada saham-saham Jepang setelah rilis kenaikan GDP nya.

Namun demikian, aksi beli yang terjadi belumlah ramai. Pasar bereaksi positif setelah Presiden ECB Mario Draghi mengatakan, berkeinginan agar Yunani tetap berada di zona Euro. Tetapi di sisi lain, beredar laporan terbaru, ECB telah menghentikan pinjaman kepada beberapa bank di Yunani yang menandakan berkurangnya dukungan ke Yunani. Di akhir pekan, kembali mengalami pelemahan setelah investor kembali khawatir terhadap terpuruknya ekonomi Spanyol setelah Moody`s mendowngrade 16 bank Spanyol dan naiknya yield obligasi.

“Bursa saham Eropa bergerak variatif cenderung negatif. Pergerakan selama Rabu, Kamis, dan Jumat masih di zona merah,” ungkap Reza kepada Ipotnews.com, di Jakarta, Minggu (20/5).

Menurut Reza, pergerakan dipicu kekhawatiran investor bahwa krisis Yunani akan menular ke Eropa Tengah. Apalagi, kata dia, pasar juga tengah mencermati prospek Yunani untuk keluar dari zona Euro. “Saham-saham perbankan paling banyak terkena aksi jual termasuk saham dari sektor energi dan tambang,” kata dia.

Reza bilang, di Yunani sendiri terjadi penarikan dana tabungan besar-besaran hingga €700 juta ($891 juta) sejak terjadinya kisruh politik.

Di sisi lain, kondisi politik yang tidak jelas di Yunani juga mempengaruhi sikap ECB yang menghentikan pinjamannya kepada beberapa bank Yunani hingga Yunani menunjukkan keseriusannya untuk menjaga komitmen bailout. Atas kondisi politik Yunani, Fitch Ratings telah mendowngrade peringkat kredit Yunani 1 level menjadi CCC dari B-. Fitch juga mengatakan akan menempatkan semua rating utang wilayah Euro berada di Rating Watch Negative.

Selain itu, beredar kabar bahwa Moody`s telah menurunkan peringkat 16 perbankan Spanyol karena penilaian makin memburuknya lonjakan kredit dan kemampuan pemerintah untuk mendukung pemberi pinjaman.

Bursa saham AS ditutup negatif. Pergerakan dipicu masih adanya sikap negatif terhadap nasib Yunani di zona Euro. Keinginan bursa saham AS untuk rebound terhenti setelah ECB menyatakan telah menghentikan penyediaan likuiditas untuk beberapa bank Yunani yang belum direkapitalisasi.

“Langkah ECB menyebabkan kebingungan pasar dan investor pun langsung merespon negatif. Investor juga bereaksi negatif terhadap kenaikan imbal hasil,” terangnya.

Potensi Rebound
Terkait hal itu, Reza memprediksi IHSG Senin (21/5) diprediksi masih akan cenderung flat. Sebabnya, para investor masih melihat pelemahan saham-saham di level entri pada penutupan Rabu (16/5), sehingga investor masih memilih untuk menahan diri dari pada berinvestasi di bursa saham.

“Harapan untuk rebound pada perdagangan Senin cenderung tipis ya,” kata Reza. Menurutnya, pergerakan IHSG juga sangat dipengaruhi pergerakan bursa Asia. Jika bursa Asia positif, maka IHSG bisa mengalami rebound.

Selain itu, terkait sentimen dari global, pada 23-24 Mei nanti data-data dari Eropa, khusunya Jerman dan Perancis akan merilis data manufaktur. Jika data tersebut menunjukkan positif, maka IHSG bisa diperkirakan rebound.

“Kalo kita cermati lebih ke dalam negeri, seperti saham WIKA, CTRA, MNCN, dan MAPI. Ada kemungkinan IHSG bisa rebound di pertengahan perdagangan,” jelasnya.

Hal lain diungkapkan Kiswoyo, Analis dari Askap Futures. Menurutnya, IHSG pada Senin (21/5) akan bergerak sideway karena terkait hasil pertemuan negara G8 yang akan memberikan stimulus agar ekonomi mereka tidak melambat.

Untuk itu, dia memprediksi IHSG akan berada pada support 3900 dengan resistance di angka 4050. Namun, kata dia, IHSG bisa bergerak naik hingga level 4100. Bahkan, untuk pekan depan IHSG diperkirakan akan bergerak hingga angka 4200.

“Biasanya kalo habis turun dalam, IHSG akan rebound. Itu teknikal rebound. Jika bisa menembus di atas 4200, maka trendnya berubah, bisa bullish,” kata dia.

Berikut saham-saham rekomendasi :
ASII, ITMG, UNTR, UNVR, BMRI, BBCA, BBRI.

LINK