Kondisi Eropa Labil, Pasar Obligasi Masih Diminati Investor

Ipotnews-Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang tidak menaikkan tingkat suku bunga, menarik investor untuk berinvestasi di pasar obligasi. Banyak dari perusahan beramai-ramai menerbitkan obligasi guna meraup dana untuk pengembangan perusahaan mereka. Tercatat, PT Pemeringkat Efek Indonesia Tbk (Pefindo) per Mei 2012, sudah menerima mandat dari beberapa perusahaan untuk menerbitkan obligasi hingga mencapai Rp 38 triliun.

Namun, kondisi global seperti di Eropa yang masih belum stabil, turut mempengaruhi pergerakan obligasi di Indonesia.

Analis Indosurya Securities Asset Management Reza Priyambada mengatakan, jika dilihat dari sentimen market, obligasi sendiri ikut terpengaruh kondisi global yang saat ini belum menentu. Walaupun, saat ini BI Rate masih mempertahankan acuan suku bunganya di angka 5,75 persen.

Menurutnya, banyaknya perusahaan menerbitkan obligasi tidak terlepas dari kebutuhan pendanaan mereka untuk persiapan pengembangan perusahaan ke depan.

Reza menjelaskan, secara teori, ketika inflasi naik, itu akan berpengaruh terhadap suku bunga obligasi, maka tingkat suku bunga obligasi pun turun, dan sebaliknya jika inflasi stabil, maka suku bunga obligasi juga akan stabil atau malah naik.

Namun, tak hanya inflasi, pasar obligasi di Eropa juga sangat mempengaruhi pergerakan obligasi di Indonesia.

“Inflasi memang tidak naik, tapi jika kondisi di Eropa tidak membaik, hal tersebut bisa mempengaruhi. Investor juga pikir-pikir,” kata Reza saat dihubungi Ipotnews.com, dalam telepon singkatnya, Minggu (20/5).

Kendati demikian, Reza memaparkan, jika dibandingkan dengan saham, saat ini memang obligasi masih relatif stabil. Walaupun terjadi penurunan, tidak sedalam penurunan di pasar saham.

Terkait banyaknya perusahaan yang ramai-ramai menerbitkan obligasi, dirinya berpendapat, hal tersebut tidak terlepas dari kebutuhan perusahaan akan pendanaan. Kupon yang ditawarkan pun, masih di level wajar karena masih berada di kisaran 7-9 persen.

“Jika dibandingkan dengan BI Rate yang 5,75 persen, spreadnya masih cukup besar, sekitar 2 persen,” kata dia.

Sebelumnya, Pefindo optimistis bisa menyerap emisi obligasi hingga menembus Rp 60 triliun sepanjang tahun ini.

Alasannya, kebijakan BI yang tidak menaikkan tingkat suku bunga menjadi daya tarik investor untuk membeli obligasi. Hal lain yang menjadi alasan, 2 lembaga pemeringkat asing juga sudah memberikan predikat layak investasi kepada Indonesia.

Namun, kata Reza, jika melihat target Pefindo untuk bisa menyerap emisi obligasi hingga Rp 60 triliun, Reza menilai kemungkinan terserap sangat kecil. Sebabnya, investor masih cenderung saving money sambil menunggu kejelasan kondisi pasar soal kondisi market Eropa.

“Kalo kondisi market di Eropa belum membaik, susah juga untuk dicapai. Angka Rp 38 triliun kan belum dilepas semua, baru tercatatnya segitu. Kecuali yang Rp 38 triliun itu sudah dilepas dan terserap semua, baru bisa pede bisa nembus angka Rp 60 triliun. Kalo ini sih ya kepedean,” katanya.

(Dewi)

LINK