Ekonomi Melambat, China Tetap Jadi Pasar Terbesar Sotheby`s

Ipotnews–Melambatnya perekonomian China tidak serta merta membuat sejumlah klien kakap Sotheby’s dari negeri itu berkurang, bahkan permintaannya diperkirakan bakal mendongkrak penjualan tahun ini.

Menurut Chief Executive Officer Sotheby’s, William Ruprecht, permintaan konsumen China terhadap perhiasan, wine, jam tangan dan keramik akan tetap berlanjut kendati pertumbuhan ekonomi negara itu melambat.

Berdasarkan estimasi rata-rata 22 ekonom yang disurvei Bloomberg, produk domestik bruto (PDB) negara dengan tingkat perekonomian terbesar kedua di dunia itu kemungkinan meningkat 8,2 persen pada tahun ini. Itu merupakan laju pertumbuhan paling lambat sejak 1999 yakni sebesar 7,2 persen, padahal tahun lalu masih membukukan 9,2 persen.

“China masih sangat penting bagi bisnis kami,” papar Ruprecht, seperti dilansir laman Bloomberg, Senin (21/5), sebelum pembukaan galeri Sotheby’s yang baru di Hong Kong. “Kendati China tidak bisa melanjutkan tingkat pertumbuhan tahunan 13 persen, orang-orang kaya di negeri itu masih bagian penting dari bisnis kami.”
Untuk lebih memanfaatkan pertumbuhan potensi bisnis, Sotheby’s pun membuka galeri yang akan digunakan sebagai tempat pameran, penjualan pribadi dan lelang anggur.
Galeri seluas 1.392 meter persegi itu juga menyediakan tempat permanen yang khusus untuk Sotheby’s Diamonds, sebuah kemitraan antara Sotheby’s dengan Steinmetz Diamond Group.

Sejumlah klien potensial di Hong Kong memiliki akses selama 300 hari dalam setahun untuk menikmati seluruh karya Sotheby’s, tak hanya sebatas pada pelaksanaan lelang selama sepekan dalam setahun.

Saat ini, galeri tersebut tengah memamerkan sejumlah karya Yayoi Kusama, seniman asal Jepang yang menghiasi apapun dengan motif polka dots, termasuk patung labunya.
Pada 2 Mei lalu, Sotheby’s sukses menjual “The Scream” versi Edvard Munch seharga 119,9 juta dollar AS, harga tertinggi untuk sebuah karya seni yang dijual melalui pelelangan.

Tahun lalu, menurut European Fine Art Foundation, yang berbasis di Belanda, China menggeser posisi Amerika Serikat sebagai pasar benda seni dan antik terbesar di dunia. Sejumlah pelelangan di daratan China, Hong Kong, Makau dan Taiwan tercatat mengalami peningkatan sebesar 9,8 miliar dollar AS sepanjang 2011.

LINK