Politik Yunani Masih Buntu, Dow Jones Lagi-Lagi ke Level Terendah

Ipotnews-Bursa saham AS ditutup ke teritori negatif semalam mengantarkan indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ke level terburuk dihitung sejak bulan Januari lalu. Pelaku pasar masih dihantui was-was masa depan Yunani yang terus berjuang untuk membentuk pemerintahan di tengah spekulasi yang berkembang negara tersebut akan keluar dari zona Eropa.

Saham-saham finansial dan energi jatuh paling dalam. Saham JPMorgan Chase & Co dan Bank of America Corp tumbang 2,6 persen seiring jatuhnya saham-saham perbankan Eropa. Alcoa Inc dan Schlumberger Ltd turun 1,5 persen mempercepat jatuhnya saham-saham komoditi. Saham berbasis teknologi termasuk yang ikut terkoreksi. Symantec Corp, perusahaan pembuat piranti sistem anti virus drop 1,4 persen setelah Goldman Sachs Group Inc memangkas rekomendasi atas saham tersebut.

Indeks S&P 500 turun 1,1 persen ke posisi 1.338,35 yang merupakan pelemahan terburuk sejak 2 Februari. The Dow Jones turun 125,25 poin atau 1 persen ke posisi 12.695,35 poin. The Chicago Board Options Exchange Volatility Index turun 10 perrsen setelah menyentuh level tertinggi di posisi 21,87 dalam 4 bulan. Indeks ini merupakan indikator cost yang digunakan dalam kontrak option sebagai proteksi jika indeks S&P 500 merosot.

Fund Manager Huntington Asset Advisors Madelynn Matlock berpendapat faktor kekhawatiran tentu lebih tinggi. “Secara keseluruhan situasi politik zona Eropa benar-benar fokus pada poin tersebut. Tak seorang pun benar-benar tahu apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang dan market sangat tidak suka dengan ketidakpastian,” katanya seperti dilansir Bloomberg.

Bursa saham global terpuruk karena kebuntuan politik di Yunani memasuki pekan kedua setelah Presiden Karolos Papoulias gagal mengamankan kesepakatan pembentukan pemerintahan bersatu. Alexis Tsipras, pemimpin Partai Syriza mengatakan Eropa harus mengkaji lagi kebijakan penghematan anggaran dan partainya menginginkan Yunani tetap menjadi anggota Uni Eropa.

Kekhawatiran terhadap krisis Eropa bertumbuh lagi karena cost asuransi terhadap kemungkinan default obligasi Spanyol melonjak. Partai pimpinan Kanselir Jerman Angela Merkel kalah di kantong-kantong suara potensial dalam pemilu yang bisa mendukung partai Social Demokrat memegang kekuasaan pemerintahan. Hasil pemilu tersebut akan menjadi modal keberanian bagi Social Demokrat seperti mitra mereka Francois Hollande yang berada di garis depan menyuarakan anti penghematan anggaran.

LINK