Pembatasan Saham Jadi Celah Asing Untuk Kuasai Bank Nasional

Ipotnews – Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional (Perbanas) menilai rencana Bank Indonesia (BI) untuk membatasi kepemilikan saham justru membuka celah bagi investor asing untuk mendominasi kepemilikan saham di perbankan nasional. Pasalnya, penjualan saham perbankan milik investor lokal yang mendominasi di bank, kemungkinan besar akan diserap investor asing.

Hal ini seperti dikemukakan Ketua Umum Perbanas, Sigit Pramono, usai seminar nasional bertajuk Masa Depan Industri Perbankan, Multifinance, Otomotif, Real Estate Pasca Penetapan Pembatasan Uang Muka di Grand Hyatt Hotel Jakarta, Selasa (15/5). “Aturan pembatasan kepemilikan saham ini akan melahirkan dampak yang sangat besar bagi perbankan,” ujar Sigit.

Dampak yang akan muncul ini, ungkap Sigit, akan mengubah peta kepemilikan saham perbankan di Tanah Air. Karena, lanjut dia, pemilik saham domestik yang menurunkan porsi kepemilikannya, tentu akan melakukann divestasi. “Kalau mereka jual dan tidak ada investor lokal yang mampu menyerap, maka akhirnya jatuh ke tangan asing lagi. Ujungnya, kepemilikan asing makin dominan,” paparnya.

Dengan demikian, menurut Sigit, sebelum aturan pembatasan saham bank ini keluar, seharusnya BI mengkaji secara cermat dan melakukan simulasi yang teliti. Hal ini bertujuan untuk mengetahui tujuan mendasar dari pembatasan kepemilikan saham perbankan tersebut. “Apakah tujuannya membatasi kepemilikan asing atau membatasi semua kepemilikan perbankan, baik asing maupun lokal. Saat ini, saya belum bisa menangkap arah dari kebijakan BI itu,” paparnya.

Lebih lanjut Sigit menambahkan, jika kebijakan BI yang sedianya akan terbit awal Juni 2012 ini merupakan respons atas dominasi kepemilikan asing di perbankan, maka langkah yang ditempuh bank sentral tersebut cukup tepat. Namun, kata dia, kalau kebijakan ini merupakan respons karena dominasi kepemilikan individu, maka ketentuan ini membuka celah bagi asing untuk menguasai saham bank.

“Kalau benar ada pembatasan kepemilikan, baik asing maupun non-asing, maka akan membutuhkan dana yang sangat besar untuk membeli saham yang dilepas pemilik saham lama,” kata Sigit sembari mengatakan, jumlah dana yang mencapai puluhan triliun rupiah itu tentunya tidak akan mampu dibeli oleh investor domestik. “Kalau kita tidak siap, ujung-ujungnya jatuh juga ke tangan asing yang mempunyai uang,” tambahnya.(Budi)

LINK