Investor Tinggalkan India, Huruf ‘I’ Pada BRIC Diganti Indonesia: Analis

Ipotnews — Negara-negara Asia Tenggara menjadi penampung pelarian dana investor dari India. Kehilangan kesabaran terhadap kemandulan kebijakan dan lambatnya pertumbuhan, investor asing mencari emerging market yang lebih menjanjikan, seperti Indonesia. Melihat situasi India, seorang analis mengatakan huruf `I` pada BRIC telah digantikan dengan Indonesia.

Skandal korupsi dan inflasi tinggi memperparah permasalahan India, yang tengah mengalami pelambatan pertumbuhan, terendah sejak tiga tahun ini. Defisit fiskal juga melebar menjadi 5,9 persen PDB pada tahun fiskal lalu. “India telah menjual janji pertumbuhan tinggi, yang disorot karena tak pernah terwujud sejak empat tahun lalu,” kata Gautam Prakash, pendiri Monsoon Capital, hedge fund asal AS.

Arus portofolio asing ke saham-saham India anjlok 99 persen menjadi hanya 5,17 miliar rupee (96,5 juta dolar AS) sejak akhir tahun anggaran Maret lalu. Perkembangan yang paling signifikan dari pergeseran arus dana asing itu adalah kemana dana tersebut menuju – ke Jakarta dan beberapa negara Asia Tenggara. “Anda melihat situasi dimana huruf `I` di BRIC telah digantikan dengan Indonesia,” kata Tim Condon, kepala riset dan strategi Asia, ING, seperti dikutip Thomson Reuters.

Brosur emerging market yang disebarkan Franklin Templeton bulan lalu, tidak mencantumkan India dari peta dunia. Eksposur India di equity fund terbesar Asia, Templeton Asian Growth, mencapai 18 miliar dolar AS, melorot 16 persen dari nilai asetnya pada akhir Maret, dan turun hampir 20 persen dibanding setahun lalu. Sementara itu eksposur ke negara-negara ASEAN melonjak 35 persen dari 31 persen pada periode tersebut.

“Secara umum kami menilai negatif India, dan lebih positif terhadap pasar alternatifnya, seperti Indonesia dan Philipina dimana kami merasa bahwa pasar telah berlari dengan sendirinya,” kata David Baran, mitra pendiri Symphhony Financial Partners, hedge fund asal Tokyo. “ASEAN mempunyai lebih banyak nilai positif dan lebih sedikit negatif ketimbang India. Kami pikir arus keluar investasi asing dari India ke ASEAN cenderung akan meningkat,” imbuhnya.

Menurut data Lipper, investor menarik dana keluar India hampir 480 juta dolar, pada April lalu, meningkatkan komulatif net outflows selama 12 bulan menjadi sekitar 4,1 miliar dolar. Sebaliknya, net inflows dana yang diinvestasikan ke Asia Tenggara sekitar 900 juta dolar hingga akhir April.

Kompilasi data portofolio nasabah Credit Suisse, menunjukkan eksposur neto ke India turun menjadi 18,7 persen pada April lalu, dari 32,5 persen pada Januari 2011. Sementara itu data Indonesia menunjukkan lonjakan menjadi 51,8 persen pada April, dari 24,7 persen pada Januari 2011. Eksposur neto memperlihatkan perbedaan antara long position dan short position. Eksposur neto yang lebih tinggi berarti dana-dana tersebut berpotensi meningkatkan pasar saham.

“Ketika BRIC dibentuk, pertumbuhan ekonomi India adalah 9 hingga 10 persen dan sekarang melambat. Ekonomi Indonesia ketika itu tumbuh 4 hingga 5 persen dan sekarang bergerak ke arah yang lebih tinggi,” kata Condon, ING.

LINK