IBPA: Asing Kurangi Kepemilikan di SUN

Ipotnews – Tingginya risiko berinvestasi di negara berkembang seperti Indonesia mendorong investor asing untuk mengurangi kepemilikan di pasar Surat Utang Negara (SUN) domestik.

Menurut analis Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) Lisa Yulianingrum di Jakarta, Selasa (15/5), pada 4 Mei 2012 lalu kepemilikan asing di SUN sempat menyentuh nilai tertinggi selama dua bulan terakhir sebesar Rp229,9 triliun. Namun, pada 10 Mei 2012 kepemilikan asing berkurang Rp1,64 persen menjadi Rp226,15 triliun.

Hal serupa juga terjadi pada perbankan yang mengalami penurunan sebesar 0,61 persen menjadi Rp302,03 triliun dari penutupan pekan lalu sekitar Rp303,89 triliun. Sejalan dengan naiknya “yield” obligasi, Bank Indonesia terlihat menambahkan kepemilikannya menjadi Rp7,26 triliun, dari pekan sebelumnya Rp1,43 triliun.

Sejalan dengan terkoreksinya harga obligasi rupiah, pada 10 Mei 2012 Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan suku bunga BI tetap berada di level 5,75 persen.

Beberapa pertimbangan ditetapkannya kembali BI rate diperkirakan tekanan inflasi April yang masih terkendali kendati pergerakan rupiah cenderung menurun, namun volatilitasnya masih terjaga serta pertumbuhan ekonomi Indonesia masih kuat di tengah perlambatan perekonomian global.

“Namun, ketidakpastian baik yang terjadi di pasar domestik dan pasar global membayangi tingginya ekspektasi inflasi untuk bulan berikutinya,” kata Lisa dalam risetnya, seperti diberitakan Antara.

Ia mengungkapkan pertumbuhan ekonomi tetap kuat didorong oleh konsumsi dan investasi, meskipun pertumbuhan ekonomi triwulan I-2012 sebesar 6,3 persen, mengalami penurunan dari triwulan sebelumnya.

Pada periode 7-11 Mei 2012, total volume perdagangan obligasi baik pemerintah maupun korporasi tercatat turun 9 persen per hari dari Rp4,65 triliun menjadi Rp4,23 triliun. “Penurunan volume yang terjadi didominasi oleh turunnya volume obligasi pemerintah sebesar 14,28 persen per hari,” ungkapnya.

Sedangkan frekuensi perdagangan mencatatkan peningkatan secara mingguan. Total frekuensi meningkat 9,99 persen dari 286 kali per hari menjadi 315 kali per hari.

LINK