BCA: DP 30 Persen Bikin Resah Industri Properti dan Kendaraan

Ipotnews – Direksi PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menilai, kebijakan Bank Indonesia memberlakukan uang muka (down payment/DP) minimal 30 persen untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR), meresahkan industri properti yang menyasar segmen menengah ke bawah.

“Kebijakan baru soal kenaikan DP yang terlalu besar, saat ini malah menimbulkan keresahan di industri properti, khususnya untuk segmen menengah ke bawah,” kata Direktur Bank BCA Henry Koenaifi dalam seminar nasional bertema Masa Depan Industri Perbankan, Multifinance, Otomotif, Real Estate Pasca Penetapan Pembatasan Uang Muka di Grand Hyatt Hotel Jakarta, Selasa (15/5).

Henry meyakini, pasca penetapan pembatasan uang muka KPR dan kredit kendaraan bermotor bakal menurunkan pertumbuhan bisnis sektor properti dan otomotif di segmen menengah ke bawah. “Tetapi, pada dasarnya kebijakan ini memiliki dampak yang bagus untuk jangka panjang,” ucapnya.

Efek positif dari kebijakan ini, jelas Henry, BI akan mampu menciptakan portofolio yang tahan guncangan dan tingkat kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) bisa terjaga di level yang rendah. “Selain itu, kebijakan BI ini juga diyakini akan mampu mencegah terjadinya overheating di sektor riil,” paparnya.

Sementara itu dampak jangka pendek yang akan muncul, ungkap Henry, akan terjadi penundaan pembelian rumah untuk kelas menengah ke bawah karena adanya penurunan daya beli akibat uang muka yang lebih besar. “Efek kebijakan ini terutama akan memberatkan konsumen yang ingin membeli rumah di kisaran Rp150 juta sampai Rp450 juta, karena uang mukanya 30 persen,” imbuhnya.

Ia menambahkan, bisnis di sektor otomotif juga akan mengalami penurunan yang signifikan untuk segmen bawah. Kebijakan ini juga berpotensi kehilangan pasar sekitar 20 persen sampai 25 persen dalam jangka pendek. “Kondisi ini pada akhirnya akan mengetatkan kompetisi di bidang financing, pemain segmen bawah pun akan bermigrasi ke segmen atas,” ujarnya. (Budi)

LINK