Kata Analis Kasus JPMorgan Rugi Bukan Faktor Utama Penekan Bursa

Ipotnews – ‎Selama sepekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan pelemahannya. Tercatat, selama sepekan kemarin IHSG melemah 102,54 poin (2,43%) di posisi 4.114,14. Pelemahan tersebut diikuti dengan pelemahan LQ 45 sebesar 19,68 poin (2,75%) dan JII sebesar 18,62 poin (3,21%).

Analis Indosurya Securities Reza Priyambada menyebutkan, sepanjang perjalanan sepekan hanya 2 kali IHSG mencatatkan kenaikan yaitu pada tanggal 8 Mei 2012 yang naik 0,53% di posisi 4.181,07 dan 10 Mei 2012 yang naik 0,11% di posisi 4.133,63.

Menurut Reza, dari indeks sektoral, indeks yang mengalami pelemahan cukup dalam ialah indeks pertambangan yang melemah 5,85% diikuti indeks properti yang turun 5,06% dan aneka industri yang turun 4,69%.

Sementara hanya 1 indeks sektoral yang mencatatkan kenaikan yaitu indeks konsumer yang naik 1,34% yang dipicu penurunan harga-harga komoditas.

“Itu membuat pelaku pasar berasumsi biaya produksi akan mengalami penurunan dan penilaian relatif lebih stabilnya saham-saham konsumer dalam kondisi krisis,” ujarnya kepada Ipotnews.com, Minggu (13/5).

‎Dia mengungkapkan, pelemahan terutama masih dipicu imbas dari kondisi yang terjadi di Uni Eropa, dimana pasar mengkhawatirkan hasil pemilu di Yunani karena nantinya akan berhubungan dengan program pemberian dana bailout dan program penghematan anggaran.

“Proses pembentukan pemerintahan masih berjalan sehingga investor sejenak meninggalkan pasar,” katanya.

Kata Reza, sentimen positif yang ada yaitu, Pemerintah Uni Eropa berhasil menyelamatkan Yunani setelah menyetujui permohonan pendanaan €5,2 miliar yang diambil dari dana talangan Eropa (EFSF) meski ada penolakan dari beberapa negara anggota yang kecewa dengan hasil pemilihan umum awal Yunani.

Di tempat lain, kemenangan Francois Hollande terhadap Nicholas Sarkozy dikhawatirkan akan menimbulkan kisruh politik dengan Kanselir Jerman Angela Merkel karena kebijakan ekonomi Hollande mendukung pertumbuhan, sedangkan Merkel fokus untuk penghematan fiskal namun, belakangan kekhawatiran ini mereda karena Jerman menyatakan akan berusaha bekerja sama dengan Presiden terpilih untuk bersama-sama menuntaskan permasalahan krisis di Uni Eropa dan memajukan pertumbuhan Zona Euro.

Setelah ekonominya ekspansi, Spanyol berencana mengucurkan dana talangan untuk Bankia, bank terbesar ke-3 di Spanyol berdasarkan asetnya.

Sementara dari AS, diwarnai sentimen negatif dimana kinerja JP Morgan Chase menurun karena merugi hingga US$ 2 miliar akibat transaksi kredit derivatif yang dibuat pialangnya.

Akibatnya, kondisi tersebut, kata Reza, merontokkan saham-saham perbankan AS hingga hampir seluruhnya.

‎ “Masalahnya berita ruginya mereka berbarengan dengan situasi politik Yunani yang tidak jelas. Jadi, kurang bisa dianggap mereka penyebab kejatuhan market,” jelasnya.

‎Terkait hal itu, Reza bilang, seperti biasa, jika ada perusahaan keuangan yang drop, maka hal tersebut akan berimbas terhadap saham-saham keuangan.

‎”Tapi mereka itu kan sentimen tambahan bukan sentimen utama. Jadi, kalau ditanya berapa lama ya tergantung sentimen utamanya. Kalau di Eropa mulai membaik maka bursa saham global juga akan membaik,” terangnya.

‎Tercatat, data-data global pekan kemarin yang keluar, diantaranya Industrial Production (MoM) Perancis di level -0,9% dari sebelumnya 0,9%; CPI (YoY) Swedia di level 1,3% dari sebelumnya 1,5%; Industrial Production (MoM) Italia di level 0,5% dari sebelumnya -0,7%; Manufacturing Production (MoM) Inggris di level 0,9 dari sebelumnya -1,1%; Industrial Production (YoY) Inggris di level -0,3% dari sebelumnya 0,4%; Interest Rate Inggris di level 0,5%; dan Unemplyoment rate Yunani di level 21,7% dari sebelumnya 21,3%.

Sementara dari AS, data-data ekonomi yang keluar di antara nya Initial Jobless Claims di level 367 ribu dari sebelumnya 368 ribu; dan Consumer Confidence di level -40,4 dari sebelumnya -37,6.

Dari Asia, data-data yang telah keluar di pekan kemarin diantaranya, CPI (YoY) China di level 3,4% dari sebelumnya 3,6%; CPI (MoM) China di level -0,1% dari sebelumnya 0,2%; Fixed Asset Investment (YoY) China di level 20,2% dari sebelumnya 20,9%; Industrial Production (YoY) China di level 9,3% dari sebelumnya 11,9%; GDP (QoQ) Hong Kong di level 0,4% dari sebelumnya 0,3%; dan Retail Sales (YoY) China di level 14,1% dari sebelumnya 15,2%.

‎Sementara dari dalam negeri, sepekan kemarin telah dirilis data-data ekonomi oleh BPS yang menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia Q1-12 mencapai 6,3% (yoy).

Tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada Maret 2012 mencapai 6,32% atau 7,61 juta orang, turun 6% dari Februari 2012 yang sebesar 8,12 juta orang.

Di sisi lain, BI merilis cadangan devisa RI naik US$ 6 miliar dari akhir April 2012 mencapai US$ 116,41 miliar.

“BI juga telah merilis BI rate dimana keputusannya tetap di level 5,75%,” ujarnya.

Reza memprediksi, untuk pekan depan, sentimen yang ada tidak jauh berbeda dengan pekan kemarin karena pelaku pasar masih menunggu kepastian pembentukan Pemerintahan koalisi di Yunani.

“Nantinya akan berhubungan dengan program pemberian dana talangan untuk membantu keuangan negara tersebut & kejelasan posisi Yunani di Uni Eropa,” terangnya.

Selain itu, diharapkan tekanan jual pekan depan untuk bursa saham bisa mereda karena saham-saham telah mendekati area oversoldnya.

“Bila bursa saham regional mengalami rebound maka IHSG pun ikut terkena imbas penguatan tersebut,” ungkapnya.

‎Beberapa data yang akan dicermati investor diantaranya:
Europe Industrial Production (MoM); South Korean Trade Balance‬ French CPI (MoM)‬ French GDP (QoQ)‬ French Non-Farm Payrolls (QoQ)‬ Italian GDP (QoQ)‬ Italian GDP (YoY)‬  Europe GDP (QoQ)‬ German ZEW Economic Sentiment‬ U.S CPI (MoM)‬ U.S Retail Sales (MoM)‬ U.S NY Empire State Manufacturing Index‬ U.S CPI (YoY)‬ South Korean Unemployment Rate‬ Japan Core Machinery Orders (MoM)‬ England Unemployment Rate‬ England CPI (YoY)‬ U.S Building Permits‬, U.S Housing Starts‬, U.S Manufacturing Sales (MoM)‬ Japan GDP (QoQ)‬, Japan Industrial Production (MoM)‬, Spanyol GDP (QoQ)‬, Hong Kong Unemployment Rate‬, Italian Industrial New Orders (MoM)‬, Italian Industrial Sales (MoM)‬.

Dari sisi teknikal mingguan, Reza mengatakan, IHSG membentuk bearish engulfing dimana candle terakhir yang terbentuk menunjukkan negatif dengan ukuran yang lebih panjang dari candle sebelumnya.

Dia menjelaskan, indikator stochastic terlihat mulai turun dari area overboughtnya. Diperkirakan pekan depan IHSG akan menyesuaikan posisi teknikalnya dengan sedikit kembali mengalami penurunan di bawah area overbought nya sebelum akan kembali rebound.

“Tetapi, ini semua tergantung dari sentimen yang ada. Bila sentimen di pekan depan menunjukkan adanya perbaikan maka penurunan IHSG akan tertahan dan mencoba kembali untuk reversal naik,” kata Reza.

Untuk saham-saham yang masih bisa dicermati berdasarkan posisi teknikalnya diantaranya AKRA, ASRI, AALI, CTRA, CPIN, BBNI, SSIA, UNTR, dan LSIP. ‎ Untuk itu, dia memprediksi range IHSG pekan depan diperkirakan berada di support 4035-4076 dengan resistance di angka 4132-4157.

(Dewi)

LINK