Inilah Sejumlah Kemungkinan Jika Yunani Pergi Dari Euro…

Ipotnews – Biarkanlah Yunani pergi (keluar dari Zona Euro), ungkapan pasrah ini makin mengemuka di Eropa saat ini. Namun, tentunya Eropa tak ingin mempermalukan diri dengan membiarkan Yunani terpuruk sendiri demi menjaga mata uang kebanggaan dan perekonomian negara anggota lain untuk tetap hidup.

Seperti diketahui, sudah dua setengah tahun program bailout dijalankan, dengan janji Yunani untuk melakukan reformasi ekonomi. Hasilnya? Pada tahun ini resesi terus melaju ke tahun kelima dan pada pekan ini malah terjadi kekacauan politik.

Pada minggu lalu, rakyat Yunani lebih memilih partai dan politisi yang anti bailout dan memilih untuk menegosiasikan ulang utang dan program bantuan internasional yang sudah disepakati bahkan dijalankan. Alhasil, jika dana bailout lanjutan tidak didapat Yunani segera, negara itu akan bangkrut dan tak bisa lain harus keluar dari Zona Euro yang kini beranggotakan 17 dari 27 negara Uni Eropa.

Pertanyaan-pertanyaan yang kini dihadapi dan jawabannya terus diutak-atik para pemimpin dari Athena, Berlin (Jerman), dan negara Zona Euro lain adalah: Apa yang terjadi jika Yunani benar-benar keluar dari Zona Euro? Seberapa parah dampak yang akan ditanggung Yunani dan negara Zona Euro lain? Apa Eropa tidak mempermalukan diri sendiri dengan membiarkan Yunani terpuruk sendiri demi menjaga mata uang kebanggaan dan perekonomian negara anggota lain tetap hidup?

Berikut adalah sejumlah skenario yang mungkin terjadi:

1. Yunani Chaos

Para ekonom sepakat bahwa Yunani, dengan tingkat pengangguran saat ini mencapai 21,7 persen, akan jauh lebih menderita jika meninggalkan kawasan mata uang tunggal euro. Mata uang Yunani, drachma,  yang baru akan jatuh hingga 50 persen lebih terhadap euro.

Dengan skenario itu, rakyat Yunani akan mencoba menarik uang euro di akun bank mereka, sebelum mereka mengonversikan ke drachma yang nilainya jauh di bawah euro. Pada pemegang saham di Yunani juga akan menjual saham mereka dengan alasan yang sama. Ketika pasar keuangan morat-marit dan deposito hilang, bank pasti akan kolaps.

Perusahaan-perusahaan Yunani yang mempunyai utang dalam euro dari peminjam luar negeri, misalnya, akan menyaksikan utang mereka akan berlipat-lipat jika dinilai dalam drachma. Tak ada kemungkinan lain, kecuali bangkrut. Rakyat Yunani, dengan nilai mata uang yang lemah, haru membayar berlipat untuk ke luar negeri atau membeli produk asing.

Dari sisi pemerintah, selain utang-utang sebelum krisis terjadi yang jumlahnya menggunung, Yunani memiliki kewajiban mengembalikan dana talangan sebesat 330 miliar euro yang merupakan utang untuk menalangi pembayaran utang-utang yang jatuh tempo sejak krisis terjadi hingga kini. Karena utang dalam euro, kecil kemungkinan pemerintah bisa membayar. Pemerintah di Athena paling banter hanya bisa memohon adanya keringanan pembayaran dari para peminjam.

2. Kemungkinan bangkit kembali

Memang tetap ada sisi positifnya. Drachma yang lemah akan membuat ekspor Yunani lebih murah dan lebih kompetitif sehingga dapat membantu perekonomian kembali tumbuh. Perusahaan di luar Yunani mungkin tertarik dengan tenaga kerja Yunani yang lebih murah, juga propertinya, sehingga akan banyak pembangunan pabrik di Yunani.

Lalu, industri pariwisata akan bangkit. Menyewa hotel di Yunani, contohnya, akan jauh lebih murah bagi turis asing.

Selama ini, ketika menggunakan euro, Yunani tidak mendapatkan keuntungan dari tingginya nilai euro. Nilai yang tinggi itu hanya merefleksikan kekuatan ekonomi dari jawara Eropa seperti Jerman.

Sayangnya, Yunani bukanlah eksportir besar, sehingga nilai drachma yang lemah mungkin juga tak memberi keuntungan yang signifikan bagi industri negara itu.

3. Penularan krisis

Ketakutan terbesar, seperti yang diungkapkan para ekonom, jika Yunani meninggalkan Zona Euro adalah sejumlah negara Zona Euro lain yang mengalami krisis juga mengikuti jejak Yunani. “Bahaya terbesar adalah penularan krisis keuangan,” kata Dennis Snower, Presiden Kiel Institute for the World Economy, seperti ditulis AP, Sabtu (12/5). “Pertanyaannya, apa yang bisa menghentikan Portugal untuk melakukan hal yang sama (dengan Yunani)?”

Di sisi lain, lanjutnya, mungkin orang-orang di negara-negara yang terkena krisis bersiap  menarik uang mereka di perbankan. “Jika semua orang berpikir hal tersebut, Anda akan tamat!”

Tambahan lagi, para investor yang khawatir negara-negara seperti Portugal dan Spanyol meninggalkan blok euro, akan meminta bunga tinggi atas investasi mereka. Jika pemerintah negara-negara itu tak bisa meminjam dengan bunga yang pantas, negara-negara itu dipastikan akan mengalami gagal bayar terhadap obligasi mereka yang jatuh tempo, perbankan yang memegang obligasi itu akan terdampak.

Mungkin Bank Sentral Eropa akan mencoba menggagalkan kemungkinan bencana keuangan itu dengan mengeluarkan pinjaman murah tak terbatas untuk bank. Itu sudah dilakukan selama ini, menggelontorkan 1 triliun euro pada Desember dan Februari lalu dan hanya bisa menenangkan krisis selama beberapa pekan.

Inti kemakmuran Zona Euro – Jerman, Prancis, Belanda, Finlandia, dan Austria – pada akhirnya tak bisa lari dari masalah. Perbankan mereka memegang banyak obligasi pemerintah dari Spanyol dan Italia. Catatannya, Italia merupakan pasar obligasi terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Jepang.

4. Berharap tak terjadi

Memang tidak semua orang sepakat bahwa jika Yunani keluar dari euro akan menjadi bencana bagi blok mata uang tunggal itu.

Alasan mereka, Yunani sangat kecil, hanya 2,5 persen dari perekonomian Zona Euro yang senilai 9 triliun euro. Sehingga apa yang terjadi dengan Yunani tak akan berdampak besar. Kemungkinan keluar dari euro terus menggelayuti pasar sejak akhir 2009. Perbankan di luar Yunani terus-menerus melakukan write-off terhadap investasi mereka di Yunani dan tak membuat utang baru.

5. Aib politik

Akhirnya, jika Yunani benar-benar keluar dari euro, tentu akan menjadi pukulan telak bagi prestise bagi Uni Eropa, khususnya 17 negara Zona Euro. Mata uang tunggal adalah harapan bagi terbentuknya sebuah benua bersatu. Tragedi Yunani tersebut juga berarti strategi yang diterapkan para pemimpin Eropa dibawah komando Kanselir Jerman Angela Merkel telah gagal. Artinya mereka tak bisa menekan sebuah negara anggota bermasalah untuk segera menjalankan strategi anggaran yang diharapkan.

Tidak ada ketentuan dalam Perjanjian Uni Eropa untuk meninggalkan euro, namun keluarnya Yunani akan menyebabkan hubungan negara itu dengan Uni Eropa dalam posisi yang “serba salah” dan “serba tidak enak”.

LINK