Efek JPMorgan, IHSG Diprediksi Terpangkas

Ipotnews – ‎Kemungkinan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk dapat menguat setelah penutupan AS dan Eropa yang sedikit positif, tampaknya belum terjadi.

Analis Indosurya Securities Reza Priyambada mengatakan, meski bursa saham AS dan Eropa positif namun, pergerakannya cenderung mendatar.

“Investor masih mencermati sentimen global yang memang belum sepenuhnya kondusif,” ungkapnya kepada Ipotnews.com, Minggu (13/5).

Apalagi, kata Reza, dari AS saham JPMorgan Chase & Co turun lebih dari 7% setelah manajemen mengumumkan adanya koreksi di laporan keuangan sehingga makin menambah sentimen negatif yang ada dan IHSG pun ikut terkena imbas pelemahannya.

Akibatnya, kata dia, investor pun melakukan aksi jual sehingga IHSG terjerembab di zona merah.

Sementara itu, di akhir pekan, BI mencatat Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada Q1-12 masih defisit US$ 1 miliar meski lebih kecil dari akhir tahun 2011 yang defisit hingga US$ 3,7 miliar.

‎Selain itu, investor mencermati rilis inflasi China yang naik 3,4% di April 2012 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan di bulan Maret sebesar 3,6%.

Menurutnya, data inflasi China yang dinilai di bawah target pemerintah diperkirakan akan mendorong PM Wen Jiabao memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan untuk menstimulasi ekonomi.

Reza bilang, investor juga mencermati kondisi di Yunani yang bisa mengancam posisi negara tersebut untuk keluar dari Uni Eropa. “Bila Yunani keluar maka rencana penghematan dan program bailout akan sia-sia,” kata Reza.

Dari Asia Pasifik, data yang dirilis di antaranya CPI (YoY) China di level 3,4% dari sebelumnya 3,6%; CPI (MoM) China di level -0,1% dari sebelumnya 0,2%; Fixed Asset Investment (YoY) China di level 20,2% dari sebelumnya 20,9%; Industrial Production (YoY) China di level 9,3% dari sebelumnya 11,9%; GDP (QoQ) Hong Kong di level 0,4% dari sebelumnya 0,3%; dan Retail Sales (YoY) China di level 14,1% dari sebelumnya 15,2%.

‎Pada perdagangan Senin (14/5) diperkirakan IHSG akan berada pada support 4.096-4.108 dan resistance 4.125-4.140.

Dia menjelaskan, IHSG akan membentuk hammer, posisi candle melewati lower bollinger bands, dan MACD masih bergerak turun dengan histogram negatif yang memanjang. RSI, William`s %R, dan Stochastic telah menembus area oversold.

“Sentimen global kian tidak menentu arahnya. Tentu saja ini akan mempengaruhi laju IHSG,” ujarnya.

Untuk itu, dia memperkirakan IHSG masih akan bergerak datar dengan kecenderungan melemah. “Diharapkan adanya aksi beli dari saham-saham yang sudah turun dalam, bisa menjadi penyeimbang pergerakan pasar,” kata dia.

Sementara itu, Analis dari PT Corfina Capital Deni Hamzah memprediksi, pergerakan IHSG pada Senin (14/5) masih terus berfluktuasi. Sebabnya, perdagangan bursa Indonesia masih diwarnai isu bursa regional dan tekanan jual dari investor asing.

Namun, menurutnya bursa masih memiliki potensi untuk ditutup di teritori positif.

Sementara itu, dia mengatakan, isu bursa juga masih terkait perekonomian Amerika Serikat terutama kerugian derivatif JP Morgan dan imbas pada lembaga keuangan lainnya.

“Isu utang negara Eropa terutama pasca terpilihnya presiden Perancis yang baru dan arah bursa Asia juga akan mempengaruhi pergerakan IHSG,” katanya.

Hal lain, Deni bilang, harga komoditas minyak juga akan berdampak pada sektor tambang, dimana saat ini harga minyak menurun. Selain itu, isu soal pembagian dividen sejumlah emiten juga masih akan menahan penurunan indeks.

Untuk itu, Deni memprediksi IHSG akan bergerak pada support 4100 dengan resistance di angka 4150.

Berikut saham-saham rekomendasi :
GGRM, INTP, MDLN, APLN, TLKM, & MNCN dengan mempertimbangkan indikator stochastic yang masih mencoba untuk reversal naik.

(Dewi)

 

LINK