Singapore Air Merugi, Cathay Tertekan Akibat Tingginya Harga Bahan Bakar

Ipotnews – Singapore Airlines Limited, maskapai penerbangan terbesar kedua di dunia berdasarkan nilai pasarnya, membukukan kerugian kuartalan, sementara Cathay Pacific Airways Limited melaporkan melambatnya pertumbuhan.

Catatan kurang menggembirakan ini, seperti dilansir laman Bloomberg, Kamis (10/5), lebih disebabkan tingginya harga bahan bakar dan anjloknya jumlah penumpang.

Dalam laporannya, Singapore Air menyebutkan kerugian sebesar 38,2 juta dollar Singapura atau sekitar 30 juta dollar AS sepanjang kuartal pertama 2012, berbanding terbalik dengan pencapaian pada periode yang sama setahun lalu, di mana mereka mencatatkan keuntungan S$171 juta.

Laporan yang mengejutkan itu juga jauh di bawah estimasi rata-rata enam analis yang dikompilasikan oleh Bloomberg, yakni keuntungan S$119 juta.

Sedangkan Cathay, maskapai penerbangan terbesar di Asia, memperkirakan pendapatan pada semester pertama dan pertumbuhan kapasitas penumpang pada tahun ini diprediksi hanya mencapai 3,2 persen, di bawah estimasi sebelumnya, yakni tujuh persen.

Maskapai yang berbasis di Hong Kong itu “kelenger” menghadapi tingginya harga bahan bakar saat harus bersaing dengan perusahaan penerbangan murah dan krisis utang Eropa telah menekan permintaan perjalanan.

“Permintaan masih lemah, sementara harga bahan bakar tetap tinggi dan tidak ada tanda-tanda permintaan kargo meningkat,” papar Jim Wong, pengamat dari Nomura Holdings Inc. “Kondisi pasar diperkirakan jauh lebih baik pada semester kedua seiring pulihnya perekonomian Amerika Serikat dan Eropa.”

Singapore Air mengatakan harga bahan bakar kemungkinan tetap tinggi sehingga akan mempengaruhi kinerja operasi perusahaan. Sementara Cathay berencana memberhentikan kru di darat, menawarkan awak kabin cuti tanpa bayaran dan menekan ekspansi bisnis kargo untuk menghemat pengeluaran.

“Kegiatan promosi tetap dilakukan karena ketatnya persaingan di antara perusahaan penerbangan yang memperkirakan terjadi penurunan jumlah penumpang,” ujar Singapore Air. “Terutama di Eropa dan Amerika Serikat di mana permintaan terus terpengaruh oleh kondisi ekonomi yang memburuk.”

Cathay mengatakan laba pada semester pertama kemungkinan kurang begitu menggembirakan disebabkan berlanjutnya tekanan pada penjualan kelas ekonomi dan melemahnya permintaan kelas premium.

Namun, Cathay menegaskan tak ada rencana untuk menunda pembelian pesawat yang sudah dipesan atau mengurangi rute penerbangan. Sepanjang tahun ini, Cathay sudah mendapatkan 15 pesawat baru, enam di antaranya sudah melayani penumpang.

Air China

Sementara itu, Asosiasi Transportasi Udara Internasional atau International Air Transport Association (IATA) memperkirakan keuntungan industri penerbangan akan turun 62 persen pada tahun ini akibat kenaikan harga bahan bakar.

Air China Limited, maskapai penerbangan terbesar di dunia berdasarkan nilai pasarnya, dan China Southern Airlines Company, membukukan laba yang lebih rendah pada kuartal pertama 2012.

Sebelumnya, Deutsche Lufthansa AG mengumumkan rencana untuk memberhentikan 3.500 karyawan administrasi sebagai bagian dari program penghematan 1,5 miliar euro atau sekitar 1,9 miliar dollar AS, setelah mencatatkan kerugian pada periode Januari-Maret.

Air France-KLM Group, yang juga melaporkan kerugian pada kuartal pertama, dalam pembicaraan dengan serikat pekerja guna melakukan PHK sehingga bisa menghemat hingga dua miliar euro. Di Negeri Paman Sam, American Airlines berupaya memangkas pekerjanya sebagai bagian dari program penghematan 1,25 miliar dollar AS per tahun setelah melakukan restrukturisasi.

“Ini merupakan situasi yang harus dihadapi industri penerbangan di seluruh dunia,” ucap Chief Executive Officer Cathay, John Slosar, di Hong Kong, kemarin. “Harga bahan bakar melonjak dan secara konsisten tetap tinggi, bisnis kargo melemah, sementara jumlah penumpang turun.”

LINK