Saksi Mata: Pesawat Sukhoi Oleng dan Mesinnya Menderu-deru

Ipotnews – Tim SAR melanjutkan pencarian pesawat Sukhoi jenis SuperJet-100 yang diduga jatuh di Gunung Salak, Bogor, kemarin, saat melakukan demonstrasi terbang di atas Jakarta.

Sebelumnya, pesawat buatan Rusia itu disebutkan membawa 42 penumpang, terdiri dari sejumlah pembeli potensial, diplomat dan wartawan. Rabu (9/5) petang disebutkan, pesawat tiba-tiba hilang dari radar setelah mengudara beberapa menit dari Bandara Halim Perdana Kusumah.

Sejumlah helikopter yang kemarin membatalkan pencarian karena buruknya kondisi cuaca, melanjutkan kembali pengamatan dari udara.

Sukhoi SuperJet-100, pesawat jet penumpang pertama milik Rusia sejak bubarnya Uni Soviet 20 tahun lalu, merupakan peluang bagi negara tersebut untuk mendapatkan pijakan di pasar pesawat komersial internasional.

Dikembangkan oleh Divisi Pesawat Sipil Sukhoi, bekerja sama dengan mitra dari Barat, sejumlah petingginya memamerkan pesawat berisi 75-95 kursi tersebut dalam tur yang bertajuk “Welcome Asia” ke beberapa negara, seperti Burma, Pakistan dan Kazakhstan.

Pesawat naas tersebut lepas landas dari Bandara Halim Perdana Kusumah pada pukul 14.21 WIB untuk melakukan uji terbang cepat yang kedua pada hari itu.

Di laman resminya, Sukhoi mengatakan saat uji terbang pertama tidak ada masalah teknis sama sekali. Pesawat tersebut diterbangkan oleh kru berpengalaman, yakni Chief Test Pilot Alexander Yablontsev dan co-pilot Alexander Kochetkov.

Menurut Kepala Badan SAR Nasional, Daryatmo, 21 menit kemudian pesawat hilang dari radar, tak lama setelah para kru bertanya kepada petugas kontrol lalu-lintas udara untuk meminta izin turun dari ketinggian tiga ribu meter ke 1.800 meter.

“Mereka (pilot) tidak menjelaskan mengapa melakukan perubahan, yang diperkirakan terjadi di sekitar Gunung Salak,” papar Daryatmo seperti dilansir laman Yahoofinance, Kamis (10/5).

Saat itu, sedang terjadi gerimis, bukan badai seperti diduga banyak kalangan, dan tidak ada tanda-tanda yang jelas bahwa pesawat mengalami gangguan terbang.

“Saya melihat pesawat besar melintas di atas rumah saya,” tutur Juanda, seorang warga yang tinggal di gunung dengan ketinggian 2.200 meter di atas permukaan laut itu.

“Pesawat kemudian oleng dan mesinnya terdengar begitu kencang. Sepertinya pesawat itu akan menuju Gunung Salak, tetapi saya tidak mendengar suara ledakan atau apapun.”

Sementara itu, puluhan anggota keluarga bermalam di Bandara Halim Perdana Kusumah, Jakarta, menunggu berita tentang nasib orang-orang  yang mereka cintai. Banyak yang menangis.

Salah satunya adalah Windy Prisilla. Menurut Windy, suaminya menghubungi dia kemarin pagi dan mengatakan akan ikut dalam uji terbang pesawat Sukhoi.

“Dia meminta saya untuk bertemu di bandara sebelum pesawat mendarat sehingga kami bisa makan siang bersama. Tetapi saya katakan, saya tidak bisa. Saya harus menjemput anak-anak di sekolah,” ujar Windy yang terisak-isak. “Sekarang, yang bisa saya lakukan adalah berdoa. Saya ingin dia pulang ke rumah dengan selamat.”

Menurut Daryatmo, lebih dari seratus orang ambil bagian dalam pencarian tersebut, termasuk tentara, polisi, dan personel angkatan udara. “Mereka bekerja sepanjang malam, tetapi terhambat oleh medan yang sangat berat dan hujan lebat,” ucap dia sambil menambahkan empat helikopter akan kembali melakukan pencarian dari udara pada hari ini.

Pembeli Potensial

Industri kedirgantaraan Rusia berdarah-darah akibat krisis ekonomi setelah runtuhnya Uni Soviet pada 1991.

Superjet Sukhoi, yang memproduksi pesawat penumpang komersial untuk kali pertama pada tahun lalu, disebut-sebut sebagai penantang serius pesawat jer berukuran sama, yakni Bombardier Inc dari Kanada, dan Embraer SA Brasil.

Dengan harga relatif lebih murah, yakni sekitar 35 juta dollar AS, Sukhoi telah menerima 170 pesanan di seluruh dunia. Dan Indonesia, negara kepulauan dengan jumlah populasi 240 juta orang di mana kelas menengahnya tumbuh dengan cepat, dianggap sebagai salah satu pelanggan potensial terbesar.

Kartika Airlines, satu dari puluhan maskapai penerbangan yang muncul di Indonesia dalam satu dekade terakhir, berencana membeli 30 unit.

Namun, tidak dijelaskan, dengan adanya kecelakaan ini Kartika Airlines akan tetap membeli Sukhoi. Sejumlah petinggi Kartika hanya mengatakan mereka masih menunggu hasil penyelidikan sebelum mengambil keputusan. Yang paling ingin diketahui adalah apakah karena masalah mekanis atau kesalahan pilot.

Daryatmo mengatakan di antara 42 penumpang pesawat itu adalah pembeli potensial dari beberapa maskapai penerbangan lokal. Sejumlah wartawan juga ambil bagian bersama beberapa orang dari Kedutaan Besar Rusia.

LINK