Presiden IDB: Industri Keuangan Syariah Harus Dorong Ekonomi Inklusif

Ipotnews – Presiden Islamic Development Bank (IDB) Ahmad Mohammed Ali mengatakan penguatan keuangan syariah dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan harus fokus pada upaya mendorong pembangunan ekonomi inklusif dan tidak pada pembiayaan perdagangan jangka pendek.

Berbicara pada pembukaan seminar internasional keuangan syariah di Bandung, Senin (7/5), Ali mengatakan inklusivitas dalam pembangunan ekonomi dan keuangan syariah antara lain di sektor perbankan syariah, produk pasar saham, asuransi mikro, pembiayaan kelembagaan syariah terutama lembaga Zakat dan Waqaf.

“Dalam 10 tahun terakhir sistem keuangan syariah terbukti memiliki peluang yang sangat besar untuk membuka dan meningkatkan akses masyarakat, dan meskipun kecil industri pendanaan mikro syariah telah menunjukkan pertumbuhan yang baik,” katanya, seperti diberitakan Antara.

Perkembangan keuangan syariah yang pesat ini, lanjut Ali telah membuat tertarik sejumlah lembaga internasional seperti French Development Agency (AFD) dan Consultative Group to Assist the Poor (CGAP) untuk bekerjasama dengan IDB dalam mengembangkan keuangan mikro syariah.

“Konsep dan keberpihakan terhadap pembangunan sektor riil ini telah menarik berbagai pihak di dunia dalam pengembangan sosial ekonomi masyarakat,” kata Ali.

Persoalan yang bisa menghambat tujuan keuangan syariah dalam pembangunan ekonomi, lanjut Ali adalah kurangnya likuiditas yang cukup untuk disalurkan lembaga-lembaga syariah ini di pasar, sehingga IDB telah bekerjasama dengan Pemerintah Qatar dan lembaga Dallah Al Barakah untuk membentuk mega Islamic bank yang akan memfasilitasi proyek-proyek besar dan penyediaan berbagai instrumen pendanaan keuangan syariah.

Ali juga meyakini sistem keuangan syariah akan tumbuh cepat di Indonesia dibanding negara lain, yang didukung pengawasan dan peraturan Bank Indonesia yang baik.

Laporan dari Bank Indonesia kontribusi industri perbankan syariah Indonesia telah mencapai 4,2 persen dari total industri perbankan nasional, dan telah tumbuh sekitar 35 – 40 persen setiap tahun.

“Saya berharap jika tren ini terus berlanjut, sistem keuangan syariah akan menjadi sektor yang penting dan dibutuhkan dalam perjalanan perekonomian negara. Kecepatan dan pertumbuhan yang konsisten juga akan memberikan pilihan pada masyarakat untuk menjalani pembangunan ekonominya yang stabil dan berkeadilan,” katanya.

Sebelumnya, Bank Indonesia mencatat industri perbankan syariah di Indonesia tumbuh 40,2 persen dalam lima tahun terakhir di atas pertumbuhan perbankan konvensional pada periode yang sama sebesar 16,7 persen.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah menyampaikan dengan perkembangan seperti itu, kontribusi perbankan syariah terhadap industri perbankan nasional akan meningkat dari 4,1 persen pada saat ini menjadi 15 – 20 persen pada 10 tahun ke depan.

Hingga tahun 2011, total aset keuangan syariah mencapai Rp214 triliun atau sekitar 23,8 miliar dolar AS yang terdiri dari 69,5 persen aset perbankan syariah dan sukuk 18,7 persen.

Saat ini di Indonesia terdapat 11 bank syariah, 24 unit usaha perbankan syariah dan 155 BPR syariah dengan total aset perbankan syariah Rp152,3 triliun atau sekitar 16,6 miliar dolar AS.

“Kami meyakini keuangan syariah akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan juga meningkatkan stabilitas sistem keuangan,” kata Halim dihadapan ratusan peserta seminar yang hadir dari berbagai negara.

LINK