Francois Hollande, “Politisi Pendiam” yang Bikin Pemimpin Eropa Ketar-ketir

Ipotnews – Kemenangan Francois Hollande atas Nicolas Sarkozy dalam pemilihan presiden Prancis putaran kedua tidak terlalu mengejutkan, mengingat sejumlah jajak pendapat sudah memprediksikannya.

Sebenarnya, Hollande bukanlah kandidat yang dijagokan Partai Sosialis untuk menantang Sarkozy dari Partai Konservatif. Majunya Hollande dalam pilpres kali ini lebih sebagai pengganti dari calon yang lebih kuat dan populer, Dominique Strauss-Kahn.

Sayang, langkah Strauss-Kahn, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) yang juga anggota Partai Sosialis, terganjal akibat kasus pemerkosaan di New York, Amerika Serikat, Mei tahun lalu. Tak hanya itu, bahkan Strauss-Kahn akhirnya mengundurkan diri dari IMF, beberapa hari kemudian. Akhirnya, Hollande yang menggantikan posisi Kahn setelah memenangkan pemilihan awal di Partai Sosialis.

Selanjutnya Hollande akan menjadi presiden kedua dari kelompok sayap kiri, di mana Francois Mitterrand—salah seorang pendiri Partai Sosialis Prancis, menguasai dua kali masa jabatan tujuh tahun Presiden Prancis sejak 1981.

Hollande lahir pada 12 Agustus 1954 di wilayah utara Prancis. Dia mengantongi latar belakang pendidikan yang cemerlang dengan tiga gelar diploma dari Ecole des Hautes Etudes Commerciales de Paris (HEC), Institut d’Etudes Politiques de Paris (Sciences Po) dan Ecole Nationale d’Administration (ENA). Semuanya merupakan universitas elite di Prancis.

Hollande pernah menjabat sebagai Sekretaris Partai Sosialis pada periode 1997-2008. Dia merupakan Walikota Tulle, kota di wilayah tengah Prancis, pada 2001-2008, sekaligus anggota parlemen untuk wilayah Correze.

Dengan latar belakang akademis dan karakter polosnya, Hollande menonjolkan diri sebagai “presiden normal”, yang tentu saja bertentangan dengan karakter “hiperaktif” Sarkozy, sehingga berhasil memenangkan dukungan publik yang kecewa dengan presiden saat ini.

Dalam setiap kampanyenya, Hollande berjanji untuk menekan tingginya angka pengangguran, termasuk dengan mempekerjakan 60 ribu guru dalam masa jabatannya, sejalan dengan penciptaan 150 ribu lapangan kerja lain.

Hollande menentang kebijakan anggaran yang hanya berorientasi pada “penghematan” dan berencana untuk membuka negosiasi pakta fiskal Eropa yang disepakati akhir Desember lalu, guna menambah beberapa klausul baru yang akan memfokuskan pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Tak heran jika Hollande membuat para pemimpin utama Uni Eropa, seperti Kanselir Jerman Angela Merkel, tak bisa tidur nyenyak. Kala itu, mereka khawatir kemenangan Hollande akan membuat program pengetatan anggaran untuk mengeluarkan Eropa dari krisis utang hancur berantakan. Dan sepertinya, “kehancuran” tersebut hanya tinggal menunggu waktu, seiring kemenangan Hollande dalam pemilihan presiden putaran kedua yang digelar kemarin.

Anggaran Berimbang

Dalam kampanyenya, Hollande pun menjanjikan anggaran belanja negara yang berimbang pada 2017 dan mendesak dibentuknya Badan Suku Bunga Eropa.

Tokoh partai Sosialis itu juga mengajukan pajak 75 persen bagi mereka yang memiliki pendapatan di atas satu juta euro (Rp11,7 miliar) per tahun dan peningkatan upah minimum.

Dalam kebijakan luar negeri, Hollande menegaskan akan menarik pasukan Prancis dari Afghanistan hingga akhir tahun ini, serta hanya akan mengintervensi urusan negara lain di bawah mandat yang diberikan Perserikatan Bangsa-bangsa.

Setelah mengalahkan Sarkozy dalam pilpres Prancis putaran pertama dengan lebih dari 28,6 persen suara, dia membuat kejutan dalam debat publik yang disiarkan televisi. Hollande tampil dengan jawaban argumentif dan agresif, serta menunjukkan kekuatan dan potensi yang sangat berbeda dari karakter pendiam yang sebelumnya begitu melekat pada dirinya.

Meskipun pemimpin sayap kanan Marine Le Pen mengatakan tidak akan mendukung kedua kandidat yang maju ke putaran kedua, tetapi Hollande mendapat dukungan dari pemimpin partai poros tengah Francois Bayrou, yang menempati posisi kelima saat pemungutan suara putaran pertama.

Hollande memiliki empat anak dengan Segolene Royal, yang gagal bersaing denga Sarkozy pada pemilu 2007. Pasangan hidupnya saat ini adalah Valerie Trerweiler, 47 tahun, seorang wartawan Prancis.

LINK