Bukan “Omong Doang”, Pemerintah Klaim Siap Alihkan BBM ke BBG

Ipotnews – Menteri Negara Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik menyatakan bahwa zaman pemakaian bahan bakar minyak (BBM) sudah berakhir. Menurut Jero, pemerintah tak sekadar “omong doang” karena sudah siap untuk menasionalkan penggunaan bahan bakar gas (BBG).

“Bagus kalau judulnya `Good Bye BBM`. Kami juga sudah siap dengan BBG, tinggal penyempurnaannya saja,” kata Jero dalam konferensi pers, di Jakarta, Jumat (4/5).

Menurut Jero, pemerintah melalui Kementerian ESDM akan memulai dan mempercepat program konversi BBM ke BBG. Jero menjelaskan, untuk kali ini pemerintah tidak hanya `omong doang` dalam melaksanakan program-program yang bertujuan untuk menghemat penggunaan BBM.

Selama ini, kata Jero, ada tiga komponen yang diperhatikan dalam menerapkan program tersebut. Pertama adalah persiapan kecukupan gas yang sudah direalisasikan melalui penyediaan sekitar 35,5 juta kaki kubik yang sudah diterima FSRU Tanjung Priok belum lama ini.

Komponen kedua, lanjut Jero, adalah persiapan alat pengubah BBM ke BBG. “Kami akan mengimpor sekitar 14 ribu unit converter kit sambil membuat alat itu di dalam negeri,” tambah Jero.

Untuk fase pertama pengadaan converter kit, Jero menegaskan pihaknya akan memberi secara cuma-cuma bagi kendaraan umum. Sementara itu, komponen ke tiga adalah pengadaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG).

Jero menjelaskan, sejauh ini sudah cukup banyak SPBG yang berdiri terutama di Jakarta, dan akan diperbanyak di beberapa daerah terutama Jabodetabek, Sumatra Selatan, dan  Jawa Timur. Untuk komponen yang ketiga, pemerintah akan mengajak Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak Bumi dan Gas (Hiswana Migas) untuk mendirikan SPBG.

“Kami juga akan menegur pemerintah daerah agar mempercepat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) bagi pengusaha yang akan mendirikan SPBG. Itu juga sudah dilakukan di beberapa daerah atau provinsi,” lanjut Jero.

Terakhir Jero menambahkan, setelah tiga komponen tersebut, nantinya peralihan bahan bakar akan beralih ke listrik yang subsidi di tahun lalu sudah mencapai Rp93 triliun. Oleh karena itu, kata Jero, dalam waktu dekat ini tidak ada lagi pembangkit baru yang menggunakan BBM.

“Intinya, pembangkit yang akan dibangun tidak boleh pakai BBM. Jadi, kalau pembangkit lama masih boleh karena tidak mungkin diubah,” tutur Jero. (Issa)\

LINK