Ajukan Kasasi, Nissan Harus Uji Teknis Untuk Peroleh Novum

Ipotnews– – PT Nissan Motor Indonesia (NMI) harus melakukan uji teknis terkait klaim yang menyebutkan bahwa produk Nissan March mampu menempuh jarak 18,5 kilometer dengan bahan bakar minyak (BMM) sebanyak satu liter. Uji teknis konsumsi bahan bakar inilah yang sedianya akan menjadi bukti baru (novum) bagi Nissan dalam pengajuan kasasi ke Mahkamah Agung.

Hal ini seperti diungkapkan Pengamat Otomotif, Jhoni Pramono saat ditemui di Restoran Warung Daun Jakarta, Minggu (6/5). “Nissan memang harus menghadirkan saksi ahli, karena masalah fuel consumption ini kompleks. Kalau dari segi teknis, itu akan meminta pengujian-pengujian yang detil dan di area yang berbeda,” kata Jhoni.

Seperti diketahui, Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan pada Selasa (17/04/12) menolak gugatan pembatalan putusan arbitrase Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) yang dilayangkan PT Nissan Motor Indonesia (NMI). Langkah ini ditempuh Nissan setelah pada 16 Februari 2012 BPSK DKI Jakarta memenangkan gugatan pemilik Nissan March atas nama Ludmilla Arif (39 tahun) yang menganggap Nissan telah melakukan pembohongan publik.

BPSK memutuskan bahwa klaim iklan Nissan March yang menyatakan konsumsi BBM jarak tempuh/kilometer melanggar Pasal 9 Ayat 1 huruf k dan Pasal 10 huruf c UU No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen. Dengan demikian, BPSK mengabulkan permohonan konsumen dan menyatakan transaksi mobil Nissan March harus dibatalkan.

Selain itu, BPSK juga memerintahkan kepada Ludmilla untuk menyerahkan Nissan March, dan pihak Nissan harus mengembalikan uang pembelian sebesar Rp150 juta secara tunai.

Namun, lagi-lagi lembaga peradilan memenangkan konsumen Nissan, setelah Ketua Majelis Hakim Muhammad Razzad menolak gugatan Nissan pada tingkat banding di PN Jakarta Selatan. Bahkan, putusan majelis hakin ini berbuntut pada rencana gugatan class action yang akan dilakukan komunitas pemilik Nissan March.

Dalam upaya mendapatkan novum untuk dibawa ke MA, lanjut Jhoni, Nissan harus melakukan uji teknis terkait konsumsi BBM Nissan March. Pasalnya, kata dia, tingkat konsumsi BBM pada kendaraan bergantung pada beberapa aspek yang dapat mempengaruhinya. “Ada tiga hal yang sangat mempengaruhi fuel consumption, yakni driving behaviour, fuel quality dan calculation system,” ujarnya.

Menyoal proses hukum di BPSK DKI Jakarta dan PN Jakarta Selatan, Jhoni meyakini masing-masing majelis hakim tidak memahami terkait teknis konsumsi BBM pada kendaraan. “Kalau menurut saya, mereka tidak paham soal teknis. Jadi, nantinya di MA harus ada pengujian secara teknis,” ujarnya.

Menurut Jhoni, pengujian tingkat konsumsi BBM pada kendaraan sangat bergantung pada perilaku pengemudi, jenis bahan bakar yang digunakan dan kondisi kepadatan lalulintas jalan. “Untuk menyebutkan bahwa kendaraan itu boros, bukan hal yang mudah. Tetapi, mungkin saja Nissan tidak mau uji teknis dan akhirnya mungkin putusan masalah moral obligation,” imbuhnya.

Sementara itu, menurut Ludmilla, saat ini Nissan sudah mengajukan kasasi ke MA untuk membatalkan putusan Pengadilan negeri Jakarta Selatan. “Menurut kabar dari Pak David ML Tobing (Pengacara Ludmilla), Nissan sudah menempuh upaya kasasi,” kata Ludmilla di Jakarta, Minggu (6/5).

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Sudaryatmo berharap agar Nissan segera menarik sejumlah iklan yang menyatakan bahwa Nissan March irit bahan bakar. “Karena permasalahan di sini soal iklan, jadi klaim-klaim itu diharapkan yang lebih informatif,” kata Sudaryatmo yang juga sebagai Anggota Majelis Arbitrase BPSK DKI Jakarta dalam perkara Nissan March.

Dalam upaya memberikan layanan terbaik kepada konsumen, kata Sudaryatmo, Nissan diharapkan segera mengeksekusi putusan BPSK yang juga dikuatkan oleh putusan PN Jakarta Selatan. “Kalau dari sisi konsumen merasa dirugikan, maka Nissan harus mengganti rugi. Tetapi, saat ini saya belum tahu apakah Nissan sudah mengajukan kasasi atau belum,” ujar Sudaryatmo saat ditemui di Restoran Warung Daun Jakarta, Minggu (6/5).

(Budi)

LINK

Iklan