Soal Sawit, Amerika Serikat Dinilai Abaikan Komitmen RI Soal Lingkungan

Ipotnews – Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) Amerika Serikat dinilai mengabaikan komitmen pemerintah Indonesia terhadap lingkungan dalam pengembangan industri kelapa sawit, sehingga menuding produk minyak sawit (CPO) Indonesia tidak ramah lingkungan.

Penilaian tersebut tertuang dalam tanggapan resmi pemerintah RI, menjawab Notice of Data Availability (NODA) yang disampaikan EPA.

Dalam rilis yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan, Jumat (4/5), Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menyatakan bahwa dalam analisis yang dilakukan, EPA telah mengabaikan komitmen pemerintah Indonesia dalam melindungi lingkungan dan mengurang emisi gas rumah kaca.

Sedangkan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Deddy Saleh, menyatakan komitmen Indonesia dalam upaya melindungi lingkungan sudah jelas pada Copenhagen Meeting tahun 2009, di mana Presiden RI telah menyampaikan komitmen untuk mengurangi gas rumah kaca sebesar 26% pada 2020 serta menargetkan penurunan emisi sebesar 41% melalui kerja sama intenasional.

“Dalam tanggapan resmi itu juga disampaikan dalam penghitungan emisi gas rumah kaca, EPA banyak menggunakan data-data yang bersifat asumsi, bukan dara riil, sehingga hasilnya tidak menggambarkan kondisi yang sesungguhnya. Jika dihitung secara ilmiah, CPO jauh lebih efisien dibandingkan tanaman lain, karena berdasarkan studi Food Policy Research Institute 2010, CPO hanya membutuhkan 0,26 hektare lahan untuk menghasilkan 1 ton minyak sawit,” papar rilis tersebut.

Selain itu, Mendag juga menyampaikan bahwa NODA dari EPA tidak konsisten dengan beberapa pasal di dalam ketentuan WTO, antara lain mengenai prinsip most favoured nation, dan national treatment karena membedakan CPO dengan komoditas seperti kedelai yang diproduksi di dalam negeri AS.(Fitriya)

LINK