Take Over 10% Saham GIAA Berpotensi Tabrak Aturan Bapepam-LK

Ipotnews–Analis Pasar Modal dari Aspirasi Indonesia Research Institute Yanuar Rizky berpendapat, penjualan saham Garuda seharga Rp 620 tersebut merupakan harga normal, yang artinya harga rata-rata pada 90 hari terakhir harga penawaran saham di pasar.

Namun, berdasarkan peraturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK)tentang pengambilalihan perusahaan terbuka, jika perusahaan ingin melakukan pembelian saham, harusnya dibeli dengan harga premium.

Peraturan yang ia maksud adalah Peraturan Bapepam-LK No IX.H.1.Ia juga menilai seharusnya, 3 perusahaan sekuritas yang berperan sebagai underwriter yang notabene merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melakukan stabilisasi harga terlebih dahulu sebelum dilepas ke publik. “Ini kok tidak melakukan stabilisasi harga. Dahlan Iskan sebagai Menteri BUMN perlu ditanyakan pertanggungjawabannya. Kalau tidak laku begitu yang malu Kementerian BUMN,” tegasnya.

Lebih lanjut Yanuar mengkritisi kinerja PT Bahana Securities, PT Mandiri Sekuritas dan PT Danareksa Sekuritas. “Sebagai underwriter harusnya lebih merujuk kepada investment bankers yang bisa mengelola portofolio dengan baik,” ujarnya kepada ipotnews, kemarin.

Terkait untung ruginya CT memborong saham Garuda, menurut Yanuar tidak bisa dijawab secara pasti. Hal itu kata dia, perlu ditanyakan langsung kepada orang yang bersangkutan.

Seperti diketahui, salah satu underwriter IPO PT Garuda Indonesia Tbk, Bahana Securities menyatakan telah berhasil menjual sebanyak 4,12% dari total 10,88% saham IPO Garuda yang tak terserap pasar. Dirut Bahana Securities Eko Yuliantoro mengatakan closing kesepakatan penjualan pada 13 April lalu.

Dia menjelaskan, penjualan dilakukan dengan mekanisme blocksale kepada Trans Airways yang memberikan penawaran harga tertinggi.
Dalam penjualan saham ini, Bahana bersama Mandiri Sekuritas dan Danareksa telah menunjuk dan menugaskan Morgan Stanley sebagai Financial Advisor untuk melakukan proses penjualan saham GIAA yang telah melaksanakan proses penjualan saham GIAA ini sesuai dengan market practice yang berlaku di pasar modal dengan menyampaikan penawaran kepada sejumlah potensial investor.

Kata Eko, kesepakatan harga jual Rp 620 per lembar saham didasarkan pada surat penawaran yang diajukan oleh pembeli tertanggal 12 April 2012 berdasarkan harga penutupan pada tanggal 11 April 2012 yang ditutup pada harga Rp 600 per lembar atau menawarkan premium sebesar 3,3 persen. Jika dihitung berdasarkan harga rata-rata penutupan selama 1 bulan, 3 bulan, dan 6 bulan yang lalu, maka harga tersebut menawarkan premium berturut-turut sebesar 1,7 persen, 4,4 persen, dan 22 persen.

Pada umumnya, Eko menjelaskan, suatu transaksi blok sales di pasar modal terjadi dengan memberikan discount terhadap harga penutupan akhir pada saat kesepakatan harga terjadi.

Harga Rp 620 tersebut merefleksikan PER 2012 Garuda sebesar 10,6x dan PER 2013 sebesar 7,8x dibandingkan dengan PER industri sejenis yang rata-rata 10,8x (PER 2012) dan 7,7x (PER 2013). Jika menggunakan parameter EBITDAR harga Rp 620 memberikan EBITDAR 6,6x (2012) vs rata-rata industri 6,3x dan EBITDAR 5,9x (2013) vs rata-rata industri 5,6x.

Perusahaan airlines pembanding adalah SIA, Eva Air, Thai, Cathay Pasific, China Airlines, Qantas, Virgin Australia, China Southern, korean Air, Asiana, dan China Eastern.

Selama 12 bulan terakhir dari tanggal 11 April 2012, harga saham garuda bergerak pada kisaran harga terendah Rp 395 (Oktober 2011) dan tertinggi Rp 640 (Maret 2012). Sementara itu, rata-rata perdagangan saham garuda untuk periode 1 bulan, 3 bulan, dan 6 bulan yang lalu berturut-turut adalah Rp 11,6 miliar (19 juta lembar saham), Rp 9,6 miliar (15,9 juta lembar saham), dan Rp 11,7 miliar (21,6 juta lembar saham).

Baca: http://www.ipotnews.com/index.php?jdl=Take_Over_10%_Saham_GIAA_Berpotensi_Tabrak_Aturan_Bapepam_LK&level2=newsandopinion&id=1264816&img=level1_bigtopnews_1&urlImage=Yanuar-Rizky_big.jpg