RI Perlu Waspadai Upaya Negara Maju Masukkan Berbagai Isu Dalam FTA

Ipotnews – Indonesia perlu mewaspadai bentuk-bentuk kerjasama perdagangan bebas dalam kondisi perkonomian global yang tidak menentu akibat krisis finansial di Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Menteri Perindustrian, MS Hidayat mengatakan, pengalaman dari kerjasama perdagangan bebas (FTA/free trade agreement) menunjukkan bahwa tidak semuanya menghasilkan manfaat yang baik bagi Indonesia. Indonesia perlu mencermati kembali dan mempertimbangkan kerjasama baik bilateral, regional, maupun multilateral.

Bahkan, lanjutnya, kondisi perekonomian beberapa negara maju yang dilanda krisis berkepanjangan, mendorong negara-negara tersebut untuk berusaha meningkatkan akses pasar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya, negara-negara tersebut cenderung mengajak negara-negara berkembang yang perekonomiannya tumbuh kuat untuk melakukan liberalisasi perekonomian melalui FTA.

“Dari pengalaman pemberlakuan ACFTA (kerjasama perdagangan bebas dengan China), Indonesia banyak dirugikan, perusahaan cabang industri yang diteliti mengalami penurunan produksi, dan kehilangan daya saing,” kata Hidayat, dalam Forum Konsultasi Publik Dengan Stakeholder Terkait FTA, dengan tema Tantangan dan Langkah-Langkah Menghadapi Liberalisasi Perdagangan Produk Industri, di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (5/4).

Hidayat menyatakan, dengan melihat pengalaman tersebut Indonesia perlu berhati-hati dan mempertimbagkan peta perekonomian dunia saat ini. “Negara-negara maju ditengarai telah memasukkan isu-isu berdalih lingkungan dan aspek lain, sementara permasalahan utamanya adalah pembukaan akses pasar,” ujarnya.

Oleh karena itu, ujarnya, dalam menghadapi permasalahan FTA, pemerintah sudah sepatutnya melakukan konsolidasi publik yang mengetengahkan pembahasan dampak dan tantangan pemberlakuan FTA. Sudah bukan zamannya lagi pemerintah berjalan sendiri dan meninggalkan pemangku kepentingan.

“Dengan melakukan pembahasan bersama pihak terkait, kami bisa mendapatkan masukan dari publik dan bisa diramu sehingga menjadi tepat sasaran dan tepat guna, khususnya industri. Hasilnya bisa dijadikan acuan dalam menyusun FTA atau meninjau FTA-FTA,” tandasnya.

Baca: http://www.ipotnews.com/index.php?jdl=RI_Perlu_Waspadai_Upaya_Negara_Maju_Masukkan_Berbagai_Isu_Dalam_FTA&level2=newsandopinion&id=1194865&img=level1_topnews_2&urlImage=liberalisme-res.jpg